SOLOBALAPAN.COM - White-Jacket; or, The World in a Man-of-War adalah novel kelima karya Herman Melville yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1850. Karya ini menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan sastra Melville sebelum ia menulis Moby-Dick.
Novel ini ditulis setelah Redburn dan berangkat dari pengalaman nyata Melville selama 14 bulan bertugas di Angkatan Laut Amerika Serikat di kapal perang USS United States pada 1843–1844. Pengalaman tersebut menjadi fondasi utama realisme dalam cerita.
Dalam bentuk semi-otobiografi, novel ini memperkenalkan narator seorang pelaut muda yang dijuluki “White-Jacket”. Julukan itu berasal dari jaket putih tebal yang ia buat sendiri untuk bertahan dari dinginnya pelayaran di sekitar Tanjung Horn.
Cerita berpusat pada pelayaran kapal perang fiktif USS Neversink, yang digambarkan sebagai dunia tertutup dengan sistem sosial yang kompleks dan keras. Kapal ini menjadi panggung utama bagi kehidupan ratusan pelaut dengan latar belakang berbeda.
Alih-alih menghadirkan alur petualangan tunggal, Melville menyusun novel ini sebagai kronik kehidupan sehari-hari di kapal perang. Ia menggambarkan rutinitas, disiplin militer, kebosanan ekstrem, serta relasi sosial yang terbentuk di ruang sempit di tengah lautan.
Salah satu fokus utama novel adalah kritik terhadap sistem hierarki militer yang kaku. Melville menunjukkan bagaimana struktur kasta antara perwira dan pelaut menciptakan ketimpangan, ketakutan, dan hilangnya martabat individu.
Tema paling kontroversial dalam novel ini adalah kecaman terhadap hukuman cambuk atau flogging. Melville menggambarkan praktik tersebut sebagai tindakan brutal yang merendahkan manusia dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan modern.
Ia juga menyoroti kemunafikan institusi, termasuk peran pendeta kapal yang digambarkan tidak mampu memberikan moralitas nyata di tengah kekerasan sistem yang dilegalkan oleh negara.
Simbol utama dalam novel ini adalah jaket putih yang dikenakan sang narator. Di satu sisi, jaket itu melindunginya dari dingin ekstrem, tetapi di sisi lain membuatnya terlihat berbeda dan terisolasi dari kru lain.
Perbedaan tersebut menjadikannya target ejekan, bahkan hampir menyebabkan tragedi ketika ia jatuh ke laut karena disalahartikan oleh kru lain. Simbol ini mencerminkan beban individualitas dalam sistem yang menuntut keseragaman mutlak.
Lebih luas lagi, Melville menggunakan kapal sebagai metafora dunia. Ia menegaskan bahwa kapal perang adalah miniatur masyarakat, di mana hukum, agama, kekuasaan, dan ketidakadilan hidup berdampingan dalam ruang tertutup.
Gagasan ini dirangkum dalam subjudul terkenal novel tersebut: “The World in a Man-of-War”, yang menunjukkan bahwa apa yang terjadi di kapal adalah refleksi dari struktur sosial dunia nyata.
Dampak novel ini melampaui dunia sastra. Kritik tajam Melville terhadap hukuman cambuk dibaca luas, termasuk oleh anggota Kongres Amerika Serikat pada masanya.
Pengaruh tersebut berkontribusi pada keputusan penting: penghapusan resmi hukuman cambuk di Angkatan Laut Amerika Serikat pada September 1850, hanya beberapa bulan setelah novel ini diterbitkan. Hal ini menjadikan White-Jacket sebagai salah satu karya sastra yang benar-benar memengaruhi kebijakan negara.
Para kritikus juga melihat novel ini sebagai jembatan menuju mahakarya Melville berikutnya, Moby-Dick. Dalam White-Jacket, Melville mulai menggabungkan detail teknis kehidupan laut dengan refleksi filosofis dan kritik sosial yang lebih dalam.
Dengan demikian, White-Jacket bukan hanya sebuah novel pelayaran, tetapi juga dokumen sosial dan politik yang tajam. Karya ini menegaskan posisi Melville sebagai penulis yang mampu mengubah pengalaman pribadi menjadi kritik universal tentang kekuasaan, kemanusiaan, dan kebebasan. (nta)
Artikel ini ditulis oleh Iranta, mahasiswa jurusan Seni Tari kampus ISI Surakarta
Editor : Laila Zakiya