Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Kisah di Balik Novel Omoo Karya Herman Melville: Kritik Kolonial yang Picu Amarah Gereja

tim solobalapan • Jumat, 26 Juni 2026 | 08:43 WIB
Buku Omoo karya Herman Melville. Source: Pinterest
Buku Omoo karya Herman Melville. Source: Pinterest

SOLOBALAPAN.COM - Novel Omoo: A Narrative of Adventures in the South Seas karya penulis Amerika Serikat Herman Melville yang pertama kali diterbitkan pada 1847 kembali mendapat perhatian dalam kajian sastra sebagai sekuel langsung dari Typee yang memperluas gambaran kehidupan pelaut dan masyarakat Polinesia.

Judul Omoo sendiri berasal dari bahasa Polinesia yang berarti “pengembara”, merujuk pada pelaut yang berpindah dari satu pulau ke pulau lain tanpa kepastian tempat tinggal.

Cerita dimulai tepat setelah peristiwa dalam Typee, ketika tokoh utama yang merupakan alter ego Melville berhasil melarikan diri dari lembah suku Typee dan kemudian diselamatkan oleh kapal pemburu paus bernama Julia.

Kapal Julia digambarkan berada dalam kondisi buruk, dengan kepemimpinan yang lemah, kru yang tidak puas, serta situasi kerja yang penuh ketegangan akibat kekurangan kebutuhan dasar.

Ketidakstabilan di atas kapal memicu ketidakpuasan di antara para awak, yang pada akhirnya berkembang menjadi bentuk penolakan terhadap sistem kerja yang berlaku.

Situasi tersebut mencapai puncaknya ketika kapal berlabuh di Tahiti, di mana sebagian besar kru menolak kembali bekerja dan melakukan aksi pembangkangan pasif.

Akibat tindakan tersebut, para pelaut ditangkap oleh otoritas kolonial setempat dan ditempatkan di penjara terbuka yang dikenal sebagai Calabooza Beretanee.

Setelah dibebaskan, tokoh utama kemudian bertemu dengan seorang mantan dokter kapal bernama Long Ghost, yang menjadi sahabat sekaligus partner dalam menjalani kehidupan sebagai pengembara di kepulauan tersebut.

Keduanya menjalani kehidupan berpindah-pindah di Tahiti dan Eimeo, bekerja serabutan dan beradaptasi dengan lingkungan lokal sambil menghadapi keterbatasan ekonomi dan sosial.

Baca Juga: Diduga Korsleting, Sepeda Motor Milik Remaja 19 Tahun Ludes Terbakar di Jalur Solo-Karanganyar

Dalam perjalanan tersebut, mereka juga berinteraksi dengan masyarakat lokal serta mencoba memahami struktur sosial dan budaya Tahiti pada masa kolonial awal.

Tema utama dalam Omoo mencakup kritik terhadap kolonialisme Eropa, khususnya dampak kehadiran Inggris dan Prancis di wilayah Polinesia.

Novel ini juga menyoroti peran misionaris Kristen yang digambarkan membawa perubahan sosial yang kompleks, termasuk hilangnya sebagian aspek budaya lokal.

Selain itu, Omoo memberikan gambaran realistis mengenai kehidupan pelaut kelas pekerja pada abad ke-19, termasuk kondisi kerja yang keras, solidaritas, dan ketidakpastian hidup di laut.

Karya ini dikenal memadukan elemen petualangan dengan humor dan satire sosial, berbeda dari nada lebih serius dalam karya Melville selanjutnya.

Sejak diterbitkan, Omoo memperoleh kesuksesan komersial dan memperkuat reputasi Melville sebagai penulis cerita laut, meskipun juga memicu kontroversi di kalangan kelompok religius akibat kritiknya terhadap misi penginjilan.

Dengan demikian, Omoo dipandang sebagai karya yang tidak hanya menghibur melalui kisah petualangan, tetapi juga merekam dinamika sosial dan politik di Pasifik Selatan pada era kolonial awal. (nta) 

Artikel ini ditulis oleh Iranta, mahasiswa jurusan Seni Tari kampus ISI Surakarta

Editor : Laila Zakiya
#Herman Melville #Omoo #Pasifik selatan #kolonialisme #novel