Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

“Bartleby, the Scrivener” Karya Herman Melville Soroti Kepasifan Ekstrem di Tengah Dunia Wall Street

tim solobalapan • Kamis, 25 Juni 2026 | 20:14 WIB
Cover buku Bartleby, the Scrivener karya Herman Melville. Source: Pinterest
Cover buku Bartleby, the Scrivener karya Herman Melville. Source: Pinterest

SOLOBALAPAN, LITERASI — Karya sastra klasik asal Amerika Serikat kembali hangat diperbincangkan di kalangan akademisi dan pencinta buku.

Cerita pendek legendaris bertajuk Bartleby, the Scrivener: A Story of Wall-Street karya Herman Melville yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1853, kini kembali mencuat menjadi bahan kajian penting karena dinilai sebagai salah satu representasi paling awal mengenai isu alienasi (keterasingan) di dunia kerja modern.

Karya ini sering kali diposisikan sebagai kebalikan atau antitesis tematis dari novel mahakarya Melville lainnya, Moby-Dick.

Jika Moby-Dick menonjolkan obsesi batin yang menggebu-gebu dan destruktif, Bartleby justru menampilkan wujud penolakan yang sangat tenang, pasif, namun luar biasa kokoh dalam meruntuhkan sebuah sistem makro.

Awal Mula Ketegangan di Kantor Hukum Wall Street

Cerita ini mengambil latar tempat di sebuah kantor hukum yang terletak di kawasan keuangan elite, Wall Street, New York.

Kantor tersebut dikelola oleh seorang pengacara mapan (yang bertindak sebagai narator) dengan kepribadian yang cenderung cari aman dan selalu berusaha menghindari konflik dalam rutinitas profesionalnya sehari-hari.

Di kantor tersebut, volume administrasi yang terus meningkat membuat para juru tulis (scriveners) dipaksa bekerja ekstra keras menyalin berbagai dokumen hukum secara manual.

Untuk mempercepat ritme kerja, sang pengacara akhirnya merekrut seorang pegawai baru bernama Bartleby.

Pada hari-hari awal bekerja, Bartleby menunjukkan performa yang sangat luar biasa. Ia bekerja dengan sangat cepat, rajin, dan menyelesaikan tumpukan salinan dokumen tanpa menimbulkan masalah sedikit pun.

Lahirnya Frasa Ikonik: "I would prefer not to"

Dinamika kerja yang membosankan tersebut mendadak berubah total saat Bartleby untuk pertama kalinya menolak sebuah perintah sederhana dari atasannya.

Alih-alih membantah dengan amarah, Bartleby merespons perintah tersebut dengan ketenangan yang tidak biasa melalui sebuah kalimat pendek.

“I would prefer not to (Saya memilih untuk tidak melakukannya).”

Kalimat tersebut kemudian bertransformasi menjadi frasa paling ikonis dalam sejarah sastra dunia sekaligus menjadi simbol utama dari sikapnya.

Sejak momen penolakan pertama itu, Bartleby secara progresif mulai menolak hampir seluruh instruksi kerja, komunikasi sosial, hingga enggan menjawab pertanyaan mengenai asal-usul latar belakang pribadinya.

Ia bahkan memilih untuk tetap tinggal di dalam kantor tanpa izin resmi, menghabiskan waktunya berjam-jam hanya dengan berdiri diam dan menatap dinding bata kosong di luar jendela.

Tabel Analisis Karakter dan Tema Utama Perlawanan Bartleby

Guna mempermudah pembaca memahami nilai filosofis dan sosiologis di balik perilaku abnormal tokoh Bartleby, berikut adalah tabel resume karakteristiknya:

Elemen Sastra Cerita Manifestasi Realitas di Lapangan Dampak Filosofis & Sosio-Profesional
Karakter Bartleby Juru tulis yang melakukan pekerjaan repetitif. Representasi resistensi pasif terhadap sistem kerja mekanis kapitalisme.
Frasa Kunci "I would prefer not to" Bentuk protes non-kekerasan yang mematahkan logika hierarki kerja.
Tema Alienasi Memutus komunikasi sosial dan menolak berintegrasi. Gambaran nyata bagaimana individu kehilangan hubungan dengan lingkungannya.
Keterbatasan Komunikasi Atasan tidak mampu menyentuh logika batin pelaku. Kegagalan norma sosial profesional dalam memahami perilaku manusia di luar batas umum.

Akhir Tragis di Penjara The Tombs

Sikap pasif Bartleby yang tidak membalas dengan kekerasan melainkan dengan keheningan, sukses membuat atasannya didera kebingungan massal.

Sang pengacara merasa tidak mampu menghadapi Bartleby menggunakan pendekatan hukum maupun logika profesional normatif. Merasa frustrasi dan buntu, sang pengacara akhirnya memilih mengalah dan memindahkan kantor hukumnya ke gedung lain.

Malangnya, Bartleby yang tetap bersikeras bertahan di gedung lama akhirnya ditangkap oleh pihak berwenang setelah dianggap sebagai gelandangan yang tidak memiliki tempat tinggal sah.

Ia dijebloskan ke penjara terkenal di New York, The Tombs.

Di dalam sel jeruji besi, Bartleby tetap teguh mempertahankan sikap pasifnya; ia menolak menyentuh makanan yang diberikan hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir dalam kondisi kelaparan yang sunyi.

Di bagian akhir cerita, narator mengungkapkan sebuah dugaan melankolis mengenai masa lalu Bartleby.

Sebelum terdampar di Wall Street, Bartleby diduga pernah bekerja di Dead Letter Office (tempat surat-surat tak terkirim diproses karena penerimanya telah tiada atau lenyap).

Pekerjaan suram memeriksa "surat mati" inilah yang dinilai merusak kondisi psikologisnya hingga memicu keterasingan jiwanya secara total dari peradaban.

Kisah mahakarya Herman Melville ini pun ditutup dengan ratapan reflektif yang mendalam dari sang pengacara, sebuah kalimat yang terus mengguncang kesadaran pembaca lintas zaman: "Ah, Bartleby! Ah, humanity!" (Ah, Bartleby! Ah, umat manusia!).

(did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#Herman Melville #Bartleby #the Scrivener #Wall-Street #novel