SOLOBALAPAN.COM - Novel Billy Budd, Sailor karya penulis Amerika Serikat Herman Melville yang ditulis antara 1888 hingga 1891 dan diterbitkan secara anumerta pada 1924 kembali menjadi sorotan dalam kajian sastra karena eksplorasinya terhadap konflik moral, hukum militer, dan sifat dasar manusia.
Karya ini merupakan novel terakhir Melville yang ditemukan dalam bentuk manuskrip setelah kematiannya, ketika ia masih berada dalam kondisi hidup yang jauh dari ketenaran sastra yang kemudian ia peroleh secara anumerta.
Cerita berlatar pada tahun 1797 di atas kapal perang Inggris HMS Indomitable, pada masa ketika angkatan laut Inggris berada dalam kondisi siaga tinggi akibat ketakutan terhadap pemberontakan pasca-Revolusi Prancis.
Narasi berpusat pada tiga tokoh utama yang masing-masing merepresentasikan aspek berbeda dari sifat manusia dalam struktur moral cerita.
Billy Budd digambarkan sebagai pelaut muda yang memiliki penampilan menarik, kekuatan fisik, dan sifat yang polos, serta mudah disukai oleh seluruh kru kapal.
Namun, Billy memiliki kelemahan berupa gangguan gagap yang muncul ketika ia berada di bawah tekanan emosional ekstrem, yang membuatnya sulit membela diri secara verbal.
Tokoh kedua, John Claggart, merupakan kepala keamanan kapal yang dikenal dingin, manipulatif, dan menyimpan kebencian terhadap Billy tanpa alasan yang jelas.
Kapten kapal, Edward Fairfax Vere, digambarkan sebagai pemimpin yang cerdas dan menjunjung tinggi hukum militer, namun berada dalam posisi sulit antara empati dan kewajiban institusional.
Konflik utama terjadi ketika Claggart menuduh Billy merencanakan pemberontakan, yang kemudian memicu konfrontasi langsung antara keduanya di hadapan Kapten Vere.
Dalam situasi tersebut, Billy yang tidak mampu berbicara karena gagap justru bereaksi secara spontan dan memukul Claggart hingga tewas.
Peristiwa tersebut memunculkan dilema hukum yang kompleks bagi Kapten Vere, yang menyadari bahwa tindakan Billy tidak sepenuhnya didasari niat jahat.
Meskipun demikian, hukum militer yang berlaku pada saat itu mewajibkan hukuman mati bagi siapa pun yang membunuh perwira, tanpa mempertimbangkan keadaan emosional atau motif.
Kapten Vere akhirnya memutuskan untuk menegakkan hukum tersebut, meskipun keputusan itu bertentangan dengan pertimbangan moral pribadinya.
Billy Budd kemudian dieksekusi dengan hukuman gantung, setelah sempat memberikan kata-kata terakhir yang bersifat memaafkan kepada kaptennya.
Tema utama dalam novel ini mencakup konflik antara kebaikan dan kejahatan, serta ketegangan antara hukum manusia yang kaku dan keadilan moral yang lebih luas.
Karya ini juga menyoroti bagaimana kepolosan individu dapat menjadi tidak terlindungi dalam sistem sosial dan hukum yang menuntut disiplin absolut.
Dengan demikian, Billy Budd, Sailor menutup perjalanan sastra Melville sebagai refleksi mendalam tentang moralitas, otoritas, dan tragedi manusia dalam struktur kekuasaan yang tidak fleksibel. (nta)
Artikel ini ditulis oleh Iranta, mahasiswa jurusan Seni Tari kampus ISI Surakarta
Editor : Laila Zakiya