Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Mengapa Moby-Dick Jadi Karya Sastra Klasik Paling Berpengaruh Dunia?

tim solobalapan • Senin, 22 Juni 2026 | 09:44 WIB
Cover buku Moby-Dick karya Herman Melville. Source: Pinterest
Cover buku Moby-Dick karya Herman Melville. Source: Pinterest

SOLOBALAPAN.COM - Novel klasik Moby-Dick karya penulis Amerika Serikat Herman Melville yang pertama kali diterbitkan pada 1851 kembali menjadi sorotan dalam kajian sastra dunia karena dianggap sebagai salah satu karya paling kompleks dalam tradisi Great American Novel.

Buku ini awalnya diterbitkan dengan judul The Whale, sebelum kemudian dikenal luas sebagai Moby-Dick, dan kini dianggap sebagai salah satu mahakarya sastra klasik yang paling berpengaruh dalam sejarah literatur Barat.

Cerita disampaikan melalui sudut pandang Ishmael, seorang pelaut muda yang memutuskan bergabung dalam pelayaran kapal pemburu paus bernama Pequod yang berangkat dari pelabuhan Nantucket.

Kapal tersebut dipimpin oleh Kapten Ahab, seorang pemimpin karismatik yang mengalami trauma setelah kehilangan kaki akibat serangan paus putih legendaris bernama Moby Dick.

Sejak insiden tersebut, Ahab mengubah tujuan pelayaran kapal dari misi ekonomi menjadi pencarian balas dendam pribadi terhadap paus tersebut.

Obsesi Ahab terhadap Moby Dick kemudian menjadi pusat konflik dalam cerita, yang menyeret seluruh awak kapal ke dalam perjalanan berbahaya di lautan lepas.

Di antara kru kapal terdapat Starbuck, mualim pertama yang digambarkan sebagai suara rasional yang mencoba menahan keputusan-keputusan ekstrem kaptennya.

Tokoh lain seperti Ishmael dan Queequeg juga turut menjadi bagian dari perjalanan yang penuh ketegangan, baik secara fisik maupun psikologis.

Dalam perkembangan cerita, Moby Dick tidak hanya digambarkan sebagai hewan laut besar, tetapi juga sebagai simbol kekuatan alam yang tidak dapat dikendalikan manusia.

Baca Juga: Fakta Perjalanan Cinta Asnawi Mangkualam dan Yuriska Patricia, Dari Kondangan Bareng Berujung Lamaran

Tema utama novel ini mencakup obsesi dan kegilaan, yang terlihat dalam tindakan Kapten Ahab yang semakin terjebak dalam keinginannya untuk membalas dendam.

Selain itu, Moby-Dick juga mengangkat konflik antara manusia dan alam, di mana alam digambarkan sebagai kekuatan yang lebih besar, misterius, dan tidak tunduk pada kehendak manusia.

Novel ini juga membahas tema takdir dan kehendak bebas, terutama melalui perdebatan internal antara Ahab dan Starbuck mengenai arah perjalanan kapal.

Struktur penulisan Moby-Dick dikenal unik karena tidak hanya menyajikan narasi cerita, tetapi juga menyisipkan penjelasan rinci tentang perburuan paus, anatomi, serta industri minyak paus abad ke-19.

Gaya bahasa dalam novel ini banyak dipengaruhi oleh tradisi tragedi klasik dan drama Shakespeare, yang terlihat dari dialog Kapten Ahab yang bersifat puitis dan dramatis.

Awalnya, novel ini tidak mendapat sambutan baik saat diterbitkan, namun seiring waktu Moby-Dick diakui sebagai salah satu karya sastra paling penting dalam sejarah Amerika dan dunia. (nta) 

Artikel ini ditulis oleh Iranta, mahasiswa jurusan Seni Tari kampus ISI Surakarta

Editor : Laila Zakiya
#Obsesi #Moby-Dick #Herman Melville #alam #novel