Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Arti Kebaikan dan Kejahatan dalam Novel The Devil and Miss Prym

tim solobalapan • Jumat, 19 Juni 2026 | 10:58 WIB
Buku Devil and Miss Prym karya Paulo Coelho. Source: Pinterest
Buku The Devil and Miss Prym karya Paulo Coelho. Source: Pinterest

SOLOBALAPAN.COM - Novel The Devil and Miss Prym karya penulis Brasil Paulo Coelho menjadi penutup dari trilogi tidak resmi yang sering disebut “On the Seventh Day”, sebuah rangkaian karya yang mengeksplorasi transformasi manusia dalam waktu tujuh hari.

Diterbitkan pada tahun 2000, novel ini dikenal sebagai salah satu karya paling filosofis dan alegoris dalam perjalanan literatur Coelho. Ia meninggalkan romansa spiritual dan psikologi individual, lalu masuk ke wilayah etika sosial dan konflik moral kolektif.

Cerita berlangsung di Viscos, sebuah desa kecil terpencil di pegunungan Prancis yang dihuni mayoritas penduduk lanjut usia. Desa ini digambarkan damai, tenang, dan sangat bergantung pada tradisi.

Ketenangan Viscos berubah drastis ketika seorang pria asing misterius datang. Kehadirannya tidak hanya mengganggu rutinitas desa, tetapi juga membawa eksperimen psikologis yang ekstrem.

Pria tersebut membawa 11 batangan emas yang ia sembunyikan di hutan sekitar desa. Satu batang lainnya ia gunakan sebagai bukti keberadaan harta tersebut, menciptakan situasi yang menguji moral penduduk.

Ia kemudian mendekati Chantal Prym, seorang gadis muda yatim piatu yang bekerja di penginapan desa. Chantal menjadi perantara utama dalam rencana yang akan mengguncang seluruh komunitas.

Kepada Chantal, pria asing itu menyampaikan sebuah tawaran mengerikan: jika dalam tujuh hari terjadi satu pembunuhan di desa, maka seluruh emas akan menjadi milik penduduk desa sebagai imbalan.

Jika tidak ada pembunuhan, pria itu akan pergi membawa emasnya tanpa meninggalkan apa pun. Kondisi ini menciptakan dilema moral yang sangat tajam bagi Chantal dan seluruh penduduk desa.

Seiring waktu berjalan, desa Viscos yang awalnya harmonis mulai dipenuhi kecurigaan dan ketegangan. Rasa takut dan keserakahan perlahan menggerogoti hubungan antarwarga.

Baca Juga: Persebaya Rayakan HUT ke-99, Usung Semangat “Persebaya untuk Semua” Jelang Satu Abad

Chantal berada di pusat konflik tersebut. Ia harus memilih antara menyimpan rahasia yang menghancurkan atau menyampaikannya dan memicu kemungkinan kehancuran moral desa.

Novel ini secara mendalam mengeksplorasi bagaimana manusia yang dianggap “baik” dapat berubah ketika dihadapkan pada godaan material dan tekanan situasi ekstrem.

Tema utama lain adalah pertarungan internal antara kebaikan dan kejahatan dalam diri manusia. Setiap tokoh digambarkan memiliki “suara” moral yang saling bertentangan dalam keputusan mereka.

Sosok pria asing dalam cerita menjadi simbol skeptisisme terhadap kemanusiaan. Ia percaya bahwa dalam kondisi tertentu, semua orang dapat dibawa untuk melakukan kejahatan.

Di sisi lain, Chantal dan karakter seperti Berta Tua mewakili intuisi, kepekaan spiritual, dan kemampuan untuk melihat lebih dalam dari sekadar kepentingan materi.

Dengan penutup ini, trilogi “On the Seventh Day” menegaskan gagasan bahwa dalam rentang waktu singkat, manusia dapat menemukan cinta, menghadapi kematian, dan pada akhirnya menentukan sendiri apakah ia akan tunduk pada kebaikan atau kejahatan dalam dirinya. (nta) 

Artikel ini ditulis oleh Iranta, mahasiswa jurusan Seni Tari kampus ISI Surakarta

Editor : Laila Zakiya
#Paulo Coelho #On the seventh day #The Devil and Miss Prym #buku #novel