Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Bedah Buku 'The Road to Wigan Pier' Karya George Orwell: Potret Kelam Kemiskinan Industri Inggris

tim solobalapan • Rabu, 17 Juni 2026 | 21:40 WIB
Cover buku The Road to Wigan Pier karya George Orwell. Source: Pinterest.
Cover buku The Road to Wigan Pier karya George Orwell. Source: Pinterest.

SOLOBALAPAN, SASTRA — Buku non-fiksi monumental berjudul The Road to Wigan Pier karya penulis legendaris asal Inggris, George Orwell, kembali menjadi sorotan hangat dalam kajian sastra politik dunia.

Buku ini dinilai sebagai salah satu laporan jurnalisme imersif paling tajam dan berani yang pernah mencatat kelamnya potret kemiskinan masyarakat industri di Inggris pada era Depresi Besar.

Diterbitkan pertama kali pada 8 Maret 1937, buku ini lahir dari penugasan resmi Left Book Club, sebuah komunitas penerbitan sosialis yang meminta Orwell untuk meneliti secara langsung kondisi riil kelas pekerja di wilayah industri bagian utara Inggris.

Jurnalisme Imersif: Menyusup ke Ruang Sunyi Kelas Pekerja

Demi menghasilkan laporan yang otentik, George Orwell tidak sekadar mengamati dari jauh. Ia melakukan jurnalisme imersif dengan tinggal dan hidup bersama di tengah-tengah kawasan buruh di Lancashire dan Yorkshire.

Baca Juga: Mengintip Paris Era 1920-an Lewat Buku 'A Moveable Feast', Memoar Klasik Ernest Hemingway

Orwell ikut merasakan getirnya kehidupan sehari-hari para penambang batu bara.

Pada bagian awal buku, Orwell menyajikan laporan lapangan yang sangat mendetail, realistis, dan emosional mengenai tiga pilar penderitaan buruh:

Aspek Penderitaan Kondisi Riil yang Ditemukan Orwell di Lapangan
Lingkungan Kerja Para penambang batu bara harus merangkak di lorong bawah tanah yang sangat sempit, pengap, berdebu, dan panas dengan risiko kecelakaan kerja yang mengancam nyawa setiap saat.
Krisis Perumahan Rumah-rumah sewaan yang ditempati oleh keluarga buruh digambarkan sangat lembap, sempit, kotor, serta sama sekali tidak layak huni bagi manusia.
Gizi & Pola Makan Akibat jerat keterbatasan ekonomi yang mencekik, keluarga buruh hanya mampu membeli makanan murah yang mengenyangkan namun memiliki kadar nutrisi yang sangat rendah.

Kritik Menohok Terhadap Ideologi Sosialisme dari Dalam

Memasuki bagian kedua buku, terjadi perubahan nada (tone) narasi yang sangat signifikan.

Orwell mengubah posisinya dari seorang pelapor sosial menjadi kritikus tajam yang menelanjangi ideologi sosialisme dari dalam gerakannya sendiri.

Salah satu kritik paling pedas yang dilayangkan Orwell adalah mengenai prasangka kelas. Ia membongkar kemunafikan para pendukung sosialisme dari kalangan kelas menengah yang pada realitasnya masih memelihara sikap superior dan memandang rendah kelas pekerja yang mereka bela.

Jarak sosial dan budaya yang tidak tulus ini dinilai Orwell sebagai batu sandungan terbesar gagalnya penyatuan kelas di Inggris.

Selain itu, Orwell juga menyerang kelompok aktivis yang ia juluki sebagai “cranks”—yakni sebagian aktivis sosialis yang dianggapnya terlalu eksentrik, elitis, dan tidak membumi dalam melakukan pendekatan ke masyarakat luas.

Ia pun mempertanyakan masa depan visi sosialisme yang terlalu mendewakan kemajuan teknologi.

Menurut pandangan Orwell, pemujaan yang berlebihan terhadap efisiensi mesin dan kecanggihan teknologi berpotensi besar mengikis sisi kemanusiaan serta mereduksi nilai-nilai humanisme dalam masyarakat.

Metafora 'Wigan Pier' dan Fondasi Mahakarya Orwell

Judul The Road to Wigan Pier sendiri sejatinya memuat makna satire dan simbolis yang mendalam. Istilah “Wigan Pier” (Dermaga Wigan) merupakan sebuah candaan lokal di kota Wigan.

Kota industri tersebut nyatanya sama sekali tidak memiliki dermaga pantai yang indah, melainkan hanya area tumpukan batu bara kusam di tepi kanal.

Orwell menggunakan metafora ini untuk menggambarkan perjalanan spiritual dan intelektual menuju realitas pahit di balik kemegahan Revolusi Industri.

Menunjukkan kepada dunia bahwa puncak kemajuan ekonomi sebuah negara sering kali dibangun dengan cara yang kejam, yaitu di atas cucuran keringat dan penderitaan manusia kelas bawah.

Pada akhirnya, The Road to Wigan Pier diakui sebagai titik balik paling krusial dalam perjalanan intelektual George Orwell. Pengalaman empirisnya di distrik industri ini berhasil memperteguh ideologinya melawan ketidakadilan sosial.

Karya non-fiksi inilah yang menjadi fondasi dasar dari lahirnya novel-novel distopia legendarisnya di masa depan, seperti Animal Farm dan 1984, yang sama-sama konsisten menggugat kesewenang-wenangan kekuasaan, sekat kelas sosial, hingga manipulasi sistemik.

(nta)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#George Orwell #The Road to Wigan Pier #inggris #ekonomi #novel