SOLOBALAPAN.COM - Buku memoar Down and Out in Paris and London karya penulis Inggris George Orwell kembali mendapat perhatian dalam kajian sastra modern karena dianggap sebagai fondasi awal pemikiran sosial-politik Orwell sebelum ia menulis karya-karya distopianya yang terkenal.
Diterbitkan pada 9 Januari 1933, buku ini menjadi karya non-fiksi naratif pertama Orwell sekaligus momen penting ketika ia mulai menggunakan nama pena “George Orwell” untuk melindungi identitas keluarganya dari stigma sosial.
Berbeda dari karya fiksi seperti 1984 atau Animal Farm, buku ini merupakan catatan langsung pengalaman hidup Orwell di dua kota besar Eropa: Paris dan London. Ia merekam realitas kemiskinan ekstrem tanpa dibalut alegori atau simbolisme.
Bagian pertama buku berfokus pada pengalaman Orwell di Paris. Ia hidup di kawasan miskin setelah kehilangan seluruh tabungannya dan terpaksa bertahan hidup dalam kondisi yang sangat terbatas.
Dalam situasi tersebut, Orwell akhirnya bekerja sebagai plongeur atau pencuci piring di sebuah hotel besar yang ia samarkan sebagai “Hotel X”. Pekerjaan ini menjadi pintu masuknya ke dunia kerja kelas bawah yang keras dan melelahkan.
Di dapur hotel tersebut, Orwell menggambarkan sistem kerja yang kacau, kotor, dan sangat hierarkis. Para pekerja dipaksa bekerja hingga 17 jam sehari dalam kondisi fisik dan mental yang melelahkan tanpa perlindungan yang layak.
Bagian Paris juga menunjukkan bagaimana kemiskinan memengaruhi psikologi manusia. Orwell tidak hanya menyoroti kelelahan fisik, tetapi juga tekanan mental yang muncul dari rasa lapar dan ketidakpastian hidup.
Setelah meninggalkan Paris, cerita berlanjut ke London. Orwell kembali ke Inggris dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang lebih stabil, namun rencananya gagal dan ia justru jatuh ke dalam kehidupan sebagai tunawisma.
Di London, ia hidup berpindah-pindah antara penampungan sementara yang disebut casual wards dan penginapan murah. Tempat-tempat ini digambarkan penuh aturan ketat, tidak nyaman, dan sering kali tidak manusiawi.
Selama masa ini, Orwell juga bertemu dengan berbagai individu dari kalangan jalanan, termasuk sosok bernama Bozo, seorang pelukis trotoar yang memiliki pandangan hidup unik meskipun hidup dalam kemiskinan.
Buku ini ditandai dengan gaya penulisan yang jujur tanpa rasa kasihan pada diri sendiri. Orwell tidak menulis untuk membangkitkan simpati, melainkan untuk mendokumentasikan realitas sosial secara apa adanya.
Pendekatan ini membuat Down and Out in Paris and London terasa seperti laporan jurnalistik sekaligus eksperimen sosial. Orwell secara sadar membenamkan dirinya dalam kehidupan kelas bawah untuk memahami realitas yang sering diabaikan kelas menengah.
Salah satu tema utama buku ini adalah kritik terhadap mitos tentang kemiskinan. Orwell menolak anggapan bahwa orang miskin adalah malas atau tidak berusaha, dan justru menunjukkan bagaimana sistem sosial memperkuat siklus kemiskinan.
Ia juga menyoroti konsep “perbudakan modern” dalam dunia kerja. Pekerjaan yang melelahkan dan tidak manusiawi digambarkan sebagai bentuk eksploitasi terselubung yang membuat pekerja kehilangan kebebasan waktu dan pikiran.
Pada akhirnya, buku ini menjadi dasar penting bagi karya-karya Orwell berikutnya. Pengalaman langsung hidup dalam kemiskinan membentuk pandangannya tentang ketidakadilan sosial, yang kemudian terlihat jelas dalam novel Animal Farm dan 1984. (nta)
Artikel ini ditulis oleh Iranta, mahasiswa jurusan Seni Tari kampus ISI Surakarta
Editor : Laila Zakiya