SOLOBALAPAN.COM - Novel The High Mountains of Portugal merupakan sebuah karya fiksi sejarah yang ditulis oleh Yann Martel, penulis asal Kanada yang sebelumnya dikenal luas lewat novel Life of Pi.
Buku ini pertama kali diterbitkan pada 2 Februari 2016 dan kembali menegaskan kecenderungan Martel dalam menggabungkan realisme magis dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang iman, kehilangan, dan makna hidup.
Secara umum, novel ini berdiri di atas fondasi narasi yang tidak linear. Alih-alih menyajikan satu alur utama yang lurus, Martel membaginya ke dalam tiga bagian berbeda dengan latar waktu dan tokoh yang terpisah.
Namun, ketiganya perlahan menunjukkan keterhubungan yang tidak langsung, terutama melalui simbol, tempat, dan pengalaman duka yang dialami para tokohnya.
Bagian pertama berjudul Homeless dan mengambil latar tahun 1904. Cerita berfokus pada Tomas, seorang kurator museum di Lisbon yang mengalami kehilangan besar dalam waktu singkat.
Ia kehilangan istri, anak, dan ayahnya hampir bersamaan, sebuah kondisi yang membuat hidupnya runtuh secara emosional.
Dari duka yang tidak tertahankan itu, Tomas memilih bentuk protes yang tidak lazim, ia berjalan mundur sebagai simbol penolakan terhadap arah hidup yang dianggapnya kejam.
Tindakan ini bukan sekadar eksentrik, tetapi menjadi representasi dari seseorang yang kehilangan kemampuan untuk melangkah ke depan secara psikologis.
Dorongan pencarian makna kemudian membawa Tomas pada sebuah perjalanan menuju pegunungan utara Portugal.
Ia menggunakan salah satu mobil pertama di Eropa, yang dalam konteks waktu tersebut justru menjadi simbol modernitas yang belum sepenuhnya dipahami masyarakat sekitar.
Perjalanannya berkaitan dengan sebuah artefak keagamaan misterius berupa salib kuno yang menggambarkan Yesus dalam bentuk simpanse.
Artefak ini bukan hanya aneh secara visual, tetapi juga menjadi titik awal pertanyaan besar tentang representasi spiritual dan batas antara manusia, hewan, dan ketuhanan.
Bagian kedua berjudul Homeward dan berlatar tahun 1938. Tokoh utamanya adalah Eusebio Lozora, seorang ahli patologi yang hidup dengan kebiasaan membaca novel-novel misteri sebagai pelarian dari rutinitas pekerjaannya yang penuh kematian.
Kehidupan Eusebio berubah ketika ia didatangi seorang wanita tua dari desa pegunungan.
Wanita itu membawa jenazah suaminya dalam koper dan meminta dilakukan otopsi, sebuah permintaan yang sudah sejak awal terasa tidak biasa dan mengganggu batas logika.
Proses otopsi yang dilakukan Eusebio berkembang menjadi pengalaman yang semakin surealis.
Di dalam tubuh jenazah tersebut ditemukan benda-benda yang tidak masuk akal, termasuk seekor simpanse kecil, yang kembali mengulang simbol sentral dalam novel ini.
Seiring perkembangan cerita, bagian ini juga menggeser fokus dari sekadar misteri medis menjadi refleksi psikologis.
Eusebio sendiri perlahan menunjukkan tanda-tanda bahwa ia tidak sepenuhnya stabil secara emosional, dan duka menjadi tema yang tidak hanya dialami orang lain, tetapi juga dirinya.
Baca Juga: Olivia Rodrigo Rilis Album Ketiga You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love
Bagian ketiga berjudul Home dan mengambil latar tahun 1981. Tokoh utamanya adalah Peter Tovy, seorang senator Kanada yang baru saja kehilangan istrinya karena kanker.
Kehilangan ini mendorongnya untuk melakukan pelarian yang tidak sepenuhnya rasional.
Peter kemudian mengadopsi seekor simpanse bernama Odo dari pusat penelitian. Keputusan ini menjadi titik balik yang membawanya meninggalkan kehidupannya di Kanada dan pindah ke desa leluhur keluarganya di pegunungan Portugal.
Di desa tersebut, narasi dari dua bagian sebelumnya mulai terasa bergaung dan saling berhubungan secara tidak langsung.
Martel tidak menyatukan cerita ini secara eksplisit, tetapi membiarkan pembaca merasakan keterkaitan melalui simbol dan atmosfer yang berulang.
Simbol simpanse menjadi elemen paling konsisten dalam seluruh novel. Ia hadir sebagai metafora tentang sisi dasar manusia, kepolosan yang hilang, serta batas kabur antara manusia dan hewan dalam menghadapi penderitaan.
Selain itu, tema besar yang mengikat ketiga bagian adalah duka dan kehilangan. Setiap tokoh utama adalah seorang duda yang menghadapi kehancuran emosional, dan masing-masing bereaksi dengan cara yang ekstrem, absurd, atau tidak konvensional.
Pada akhirnya, The High Mountains of Portugal tidak menawarkan jawaban yang sederhana.
Novel ini lebih berfungsi sebagai ruang refleksi tentang bagaimana manusia mencari makna di tengah penderitaan, dengan campuran realisme magis, satire, dan simbolisme yang padat. (nta)
Artikel ini ditulis oleh Iranta, mahasiswa jurusan Seni Tari kampus ISI Surakarta
Editor : Laila Zakiya