Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

The Sun Also Rises: Karya Debut Hemingway yang Mengguncang Dunia Sastra Modern

tim solobalapan • Selasa, 16 Juni 2026 | 10:32 WIB
Cover buku The Sun Also Rises karya Ernest Hemingway. Source: Pinterest
Cover buku The Sun Also Rises karya Ernest Hemingway. Source: Pinterest

SOLOBALAPAN.COM - Pada tahun 1926, dunia sastra internasional menyambut kemunculan sebuah novel yang kelak dianggap sebagai tonggak penting modernisme: The Sun Also Rises, karya debut dari Ernest Hemingway. Novel ini tidak hanya memperkenalkan gaya penulisan baru, tetapi juga menangkap kegelisahan generasi pasca Perang Dunia I.

Diterbitkan di Inggris dengan judul Fiesta, novel ini segera menarik perhatian kritikus sastra karena pendekatannya yang berbeda dari karya-karya pada masanya. Hemingway menawarkan narasi yang dingin, terukur, namun sarat makna tersembunyi di balik kalimat-kalimat singkatnya.

Cerita berpusat pada kelompok ekspatriat Amerika dan Inggris yang tinggal di Paris pada era 1920-an. Mereka menjalani hidup tanpa arah yang jelas, berpindah dari satu pesta ke pesta lain, seolah mencari pelarian dari trauma masa lalu.

Tokoh utama, Jake Barnes, digambarkan sebagai seorang jurnalis Amerika yang mengalami luka perang serius. Cedera tersebut membuatnya tidak mampu menjalani hubungan fisik dengan perempuan yang dicintainya, sebuah simbol dari kehancuran emosional pascaperang.

Sosok Lady Brett Ashley hadir sebagai pusat gravitasi emosional dalam cerita. Ia adalah perempuan bebas, menarik, dan sulit dimiliki, yang menjadi objek cinta banyak pria dalam lingkaran sosial mereka, termasuk Jake sendiri.

Hubungan antara Jake dan Brett menjadi inti tragedi emosional novel ini. Keduanya saling mencintai, tetapi terhalang oleh kondisi fisik, sosial, dan pilihan hidup yang tidak bisa mereka ubah.

Konflik semakin berkembang ketika rombongan ini melakukan perjalanan ke Pamplona, Spanyol, untuk menyaksikan festival San Fermín yang terkenal dengan pertunjukan bantengnya. Di sana, ketegangan antar karakter mencapai puncaknya.

Dalam suasana pesta dan kekacauan tersebut, muncul Robert Cohn, seorang penulis yang sering merasa terasing dari kelompoknya. Kehadirannya memperkeruh dinamika sosial yang sudah rapuh di antara para ekspatriat.

Puncak konflik emosional terjadi ketika Lady Brett Ashley terlibat dengan Pedro Romero, seorang matador muda berbakat. Sosok Romero digambarkan sebagai representasi maskulinitas ideal yang tenang, berani, dan terkontrol.

Baca Juga: Fakta Novel The Old Man and the Sea, Mahakarya Peraih Nobel Sastra

Perbedaan antara Romero dan para pria lain dalam novel menegaskan tema besar Hemingway tentang maskulinitas. Romero berdiri sebagai simbol kehormatan dan keberanian, sementara karakter lain digambarkan penuh kekacauan batin.

Novel ini juga dikenal sebagai representasi utama konsep “Lost Generation”, istilah untuk menggambarkan generasi muda yang kehilangan arah akibat dampak psikologis dan moral dari Perang Dunia I.

Para tokoh dalam cerita menunjukkan gejala keterasingan yang mendalam. Mereka mengisi kekosongan hidup dengan alkohol, perjalanan, dan hubungan yang tidak stabil, namun tidak pernah benar-benar menemukan makna.

Gaya penulisan Hemingway dalam novel ini menggunakan pendekatan yang kemudian dikenal sebagai “Iceberg Theory”. Hanya sebagian kecil emosi dan makna yang ditampilkan di permukaan, sementara sisanya dibiarkan tersembunyi di bawah teks.

Teknik ini membuat pembaca harus aktif menafsirkan perasaan dan konflik yang tidak diucapkan secara langsung oleh para tokoh. Hal ini menjadi ciri khas yang kemudian memengaruhi banyak penulis modern setelahnya.

Hingga kini, The Sun Also Rises tetap dianggap sebagai salah satu novel paling berpengaruh dalam sastra abad ke-20. Karya ini bukan hanya cerita tentang cinta dan kehilangan, tetapi juga potret tajam tentang generasi yang kehilangan pegangan di tengah perubahan dunia. (nta)

Artikel ini ditulis oleh Iranta, mahasiswa jurusan Seni Tari kampus ISI Surakarta 

Editor : Laila Zakiya
#Ernest Hemingway #The Sun Also Rises #buku #klasik #novel