SOLOBALAPAN.COM- Di tengah maraknya novel fiksi populer dan buku-buku pengembangan diri yang banyak diminati anak muda, karya-karya sastra yang mengangkat sejarah sering kali terlewatkan.
Padahal, sejumlah buku justru menawarkan sudut pandang yang berbeda untuk memahami masa lalu.
Salah satunya adalah Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer karya Pramoedya Ananta Toer.
Buku ini mengangkat kisah para remaja perempuan Indonesia yang menjadi korban pada masa pendudukan Jepang.
Melalui berbagai kesaksian yang dihimpun Pramoedya, pembaca diajak melihat bagaimana perang tidak hanya meninggalkan dampak politik dan ekonomi, tetapi juga luka kemanusiaan yang mendalam bagi para korban.
Berbeda dengan pelajaran sejarah yang umumnya berisi tanggal, peristiwa, dan tokoh-tokoh besar, buku ini menghadirkan sejarah dari sudut pandang orang-orang yang mengalami langsung peristiwa tersebut.
Pembaca diajak memahami bagaimana kehidupan para perempuan muda berubah akibat kebijakan dan kekuasaan yang tidak berpihak kepada mereka.
Salah satu hal yang membuat buku ini tetap relevan adalah tema yang diangkat masih dekat dengan berbagai persoalan masa kini.
Kekerasan terhadap perempuan, penyalahgunaan kekuasaan, hingga pentingnya perlindungan terhadap kelompok rentan masih menjadi isu yang terus dibicarakan di berbagai belahan dunia.
Melalui kisah para korban, pembaca dapat melihat bahwa dampak sebuah tindakan tidak selalu berhenti pada saat peristiwa itu terjadi.
Banyak luka yang bertahan hingga bertahun-tahun, bahkan memengaruhi kehidupan seseorang sepanjang hidupnya. Pesan inilah yang membuat buku tersebut tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga pengingat akan pentingnya menghargai hak dan martabat manusia.
Bagi generasi muda, membaca buku ini juga dapat menjadi cara untuk memperluas cara pandang terhadap sejarah Indonesia.
Sejarah tidak hanya dibentuk oleh para pemimpin, tentara, atau tokoh besar yang namanya tercatat dalam buku pelajaran. Di balik peristiwa besar, terdapat banyak kisah masyarakat biasa yang sering kali terlupakan.
Gaya penulisan Pramoedya yang lugas membuat berbagai kisah dalam buku ini terasa dekat dengan pembaca.
Ia tidak berusaha menghadirkan sensasi berlebihan, melainkan membiarkan pengalaman para korban berbicara melalui cerita yang disampaikan.
Justru dari kesederhanaan itulah pembaca dapat merasakan besarnya penderitaan yang dialami para perempuan tersebut.
Di era ketika informasi dapat diakses dengan mudah melalui media sosial, buku ini mengingatkan bahwa memahami sejarah membutuhkan lebih dari sekadar membaca ringkasan singkat.
Diperlukan kesediaan untuk mendengar, memahami, dan merefleksikan pengalaman manusia yang hidup pada masa tersebut.
Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer pada akhirnya bukan hanya buku tentang masa lalu.
Karya ini juga menjadi pengingat bahwa kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap hak-hak perempuan merupakan nilai yang harus terus dijaga. Karena itulah, meski pertama kali diterbitkan bertahun-tahun lalu, buku karya Pramoedya Ananta Toer ini masih relevan untuk dibaca oleh generasi muda saat ini. (lut)
Artikel ini ditulis oleh Luthfiana Sekar Arum Rahmawati, mahasiswa Politeknik Indonusa Surakarta
Editor : Laila Zakiya