Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Kisah Buku Citadelle, Mahakarya Terakhir Antoine de Saint-Exupéry yang Ditulis Sebelum Hilang Misterius

tim solobalapan • Senin, 15 Juni 2026 | 20:49 WIB
Cover buku Citadelle karya Antoine de Saint-Exupéry. Source: Pinterest
Cover buku Citadelle karya Antoine de Saint-Exupéry. Source: Pinterest

SOLOBALAPAN, SASTRA — Penulis sekaligus penerbang legendaris asal Prancis, Antoine de Saint-Exupéry, menutup lembaran perjalanan literaturnya dengan sebuah karya yang sangat monumental bernama Citadelle (The Wisdom of the Sands).

Buku ini diterbitkan secara anumerta pada tahun 1948 oleh penerbit Editions Gallimard, setelah sang maestro dinyatakan hilang secara misterius dalam misi penerbangan di atas Laut Mediterania pada 31 Juli 1944 silam.

Berbeda jauh dengan Le Petit Prince yang dikemas dalam bentuk dongeng puitis nan polos, atau Pilote de Guerre yang berwujud memoar perang, Citadelle tampil sebagai mahakarya (magnum opus) spiritual dan filosofis yang masif.

Buku ini menjadi wadah pamungkas bagi seluruh refleksi moral dan pemikiran eksistensialisme Saint-Exupéry sepanjang hidupnya.

Baca Juga: Sisi Lain Antoine de Saint-Exupéry: Bedah Buku Lettre à un otage, Surat Cinta Spiritual untuk Prancis yang Terjajah

Proses Panjang Lahirnya Naskah 1.000 Halaman

Proses penulisan kitab pemikiran ini sejatinya telah dirajut sejak tahun 1936. Saint-Exupéry menulisnya secara obsesif di mana pun ia berada; mulai dari bilik kamar hotel di New York, di sela-sela ketegangan misi militer, hingga malam-malam terakhir menjelang lenyapnya pesawat yang ia kemudikan.

Manuskrip asli yang ia tinggalkan mencapai hampir 1.000 halaman dalam bentuk catatan fragmentaris yang belum sepenuhnya selesai.

Rekan-rekan sastranya kemudian menyusun serpihan catatan tersebut apa adanya. Alhasil, membaca Citadelle memberikan sensasi magis seperti sedang menelaah sebuah kitab kebijaksanaan kuno yang sarat akan kekuatan narasi.

Gaya bahasanya yang megah, puitis, dan ritmis dinilai sangat mirip dengan gaya Friedrich Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra atau Kahlil Gibran dalam The Prophet.

Latar Gurun Fiktif dan Simbolisme Benteng Jiwa

Narasinya mengambil latar sebuah kerajaan padang pasir fiktif di Timur Tengah dengan tokoh utama seorang pangeran muda dari suku Berber yang kelak bertakhta menjadi raja.

Melalui dialog puitis dengan rakyat, musuh, hingga tabib kerajaan, sang raja merenungkan wejangan sang ayah mengenai kepemimpinan, moralitas, tradisi, dan ketuhanan.

Ada beberapa konsep kunci yang membentuk arsitektur pemikiran dalam buku Citadelle:

Jembatan Emas Antara Citadelle dan Le Petit Prince

Hubungan antara Citadelle dan Le Petit Prince terjalin sangat erat. Keduanya mengusung esensi pesan yang sama mengenai tanggung jawab, cinta, dan pemahaman esensial antarsesama manusia.

Namun, keduanya diekspresikan lewat medium yang bertolak belakang:

Aspek Karakteristik Le Petit Prince (Pangeran Cilik) Citadelle (The Wisdom of the Sands)
Gaya Bahasa Polos, imajinatif, dan ramah anak. Megah, puitis, ritmis, dan arsitektural.
Pendekatan Cerita Alegori dongeng fantasi luar angkasa. Monolog dan refleksi filosofis dewasa yang keras.
Konsep Utama Proses "menjinakkan" dan melihat dengan hati. Tanggung jawab kepemimpinan dan eksistensi jiwa.

Salah satu wejangan moral yang paling melegenda dan dikutip secara global dari buku ini menggambarkan bagaimana sebuah motivasi, inspirasi, dan visi harus dibangun dari dalam hati manusia:

"Jika kamu ingin membangun sebuah kapal, jangan kumpulkan orang-orang untuk mencari kayu, menyiapkan alat, dan membagi tugas... tetapi ajarilah mereka kerinduan akan laut yang luas dan tak terbatas."

Secara keseluruhan, Citadelle menjadi penutup epik sekaligus pintu gerbang transformatif bagi siapa saja yang ingin menyelami filsafat eksistensialisme dan kepemimpinan secara mendalam.

Karya ini menawarkan pengalaman membaca yang abadi dan membuktikan bahwa nilai moral tidak boleh dikorbankan, bahkan ketika manusia berada di situasi paling gelap sekalipun.

(nta)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#Antoine de Saint-Exupéry #Citadelle #buku #klasik #novel