SOLOBALPAN.COM - Film Wuthering Heights siap kembali hadir ke layar lebar dengan pendekatan yang jauh berbeda dari adaptasi sebelumnya.
Film bergenre romantic gothic ini dijadwalkan tayang pada 13 Februari 2026, tepat menjelang perayaan Hari Valentine.
Disutradarai sekaligus ditulis oleh Emerald Fennell, proyek ini menjadi interpretasi baru atas novel klasik karya Emily Bronte yang selama puluhan tahun dianggap sebagai salah satu kisah cinta paling tragis dalam sastra dunia.
Versi terbaru Wuthering Heights mempertemukan dua nama besar Hollywood, yakni Margot Robbie sebagai Catherine “Cathy” Earnshaw dan Jacob Elordi sebagai Heathcliff.
Chemistry keduanya menjadi salah satu daya tarik utama film, terlebih karena hubungan Cathy dan Heathcliff selama ini dikenal sebagai kisah cinta obsesif yang penuh gairah.
Selain dua pemeran utama, film ini juga menghadirkan jajaran aktor pendukung seperti Hong Chau sebagai Nelly Dean, Shazad Latif sebagai Edgar Linton, serta Alison Oliver sebagai Isabella Linton.
Kombinasi para pemain tersebut membuat film diprediksi memiliki dinamika emosional kuat sekaligus konflik sosial khas drama periode Inggris.
Namun yang paling menarik perhatian bukan sekadar daftar pemainnya, melainkan pendekatan sang sutradara.
Baca Juga: Spesifikasi Gahar Mobil Honda Prelude, Warna Merah Jadi Primadona Konsumen Indonesia
Emerald Fennell menegaskan bahwa film ini bukan reproduksi lurus novel klasik, melainkan interpretasi emosional terhadap pengalaman pribadinya saat membaca Wuthering Heights di usia muda.
Ia bahkan menyebut film ini sebagai “a sister, not a twin,” menandakan bahwa versinya tetap terhubung dengan novel asli tetapi tidak dimaksudkan menjadi salinan identik.
Pendekatan tersebut membuat Fennell lebih fokus menangkap hubungan Heathcliff dan Cathy sebagai relasi yang obsesif, sensual, dan destruktif.
Dibanding sekadar menghadirkan drama romantis klasik, film ini mencoba menyoroti luka emosional, hasrat, serta hubungan penuh ketergantungan yang selama ini membuat kisah mereka terasa tragis dan tak terlupakan.
Di balik layar, proyek ini juga sempat menjadi rebutan besar industri hiburan. Menurut laporan industri perfilman, Netflix dikabarkan pernah menawar sekitar US$150 juta demi mendapatkan hak distribusi film.
Namun akhirnya proyek jatuh ke tangan Warner Bros karena tim produksi menginginkan perilisan bioskop skala besar dibanding debut eksklusif streaming.
Sentuhan unik lain hadir lewat musik. Film ini menggunakan lagu orisinal dari Charli XCX, sesuatu yang tergolong tidak biasa untuk drama periode abad ke-19.
Baca Juga: Lebih Modern dan Tampil Sporty, Honda City Facelift 2026 Meluncur, Berapa Harganya?
Pendekatan ini dipilih untuk memadukan atmosfer klasik dengan energi emosional modern, sementara musik latar utamanya tetap dikerjakan komposer Anthony Willis.
Dalam materi promosi resminya, film dipasarkan sebagai “a bold and original imagining,” sebuah penegasan bahwa adaptasi ini memang ingin tampil lebih berani dibanding versi-versi terdahulu.
Unsur sensualitas, emosi yang meledak-ledak, serta gaya visual teatrikal menjadi identitas kuat yang langsung membedakan film ini dari adaptasi klasik Wuthering Heights lainnya.
Meski begitu, respons awal komunitas film menunjukkan reaksi yang cukup terbelah. Di komunitas daring, sejumlah penonton menyebut film terasa sangat khas gaya Emerald Fennell—teatrikal, sensual, divisif, tetapi sulit diabaikan.
Dengan semua kontroversi dan ekspektasi tersebut, Wuthering Heights diprediksi menjadi salah satu drama periode paling ramai dibicarakan sepanjang 2026. (ags)
Editor : Laila Zakiya