SOLOBALAPAN.COM - Setelah lama dianggap “jinak” oleh sebagian kalangan, Slank akhirnya kembali ke jalur aslinya: sang penyambung lidah rakyat yang garang.
Dirilis tepat pada perayaan ulang tahun ke-42 mereka, Sabtu (27/12/2025), single bertajuk “Republik Fufufafa” sukses meledakkan percakapan publik di awal tahun 2026 ini.
Bagi Slankers Solo, lagu ini bukan sekadar karya musik biasa. Ia adalah pernyataan sikap. Lewat perpaduan lirik yang vulgar dan Musik Video (MV) yang provokatif, Bimbim cs seolah ingin menegaskan bahwa Slank belum kehilangan “aring” untuk mengkritik ketidakteraturan negeri.
Musik Video “Republik Fufufafa” yang diunggah di kanal YouTube resmi Slank tidak bermain aman.
Visualnya dikemas dengan estetika yang gritty (suram), menggambarkan sebuah “Negeri kacau balau” di mana simbol-simbol kekuasaan bersanding dengan realitas pahit jalanan.
Ada penggunaan metafora visual yang kuat – mulai dari gambaran orang-orang yang “sakau” akan kuasa dan judi, hingga sindiran halus mengenai proyek-proyek besar yang menyisakan beban.
MV ini seolah-olah menjadi “dokumenter pendek” tentang kemerosotan moral yang dibungkus dengan energi rock n’ roll yang meledak-ledak.
Ditulis langsung oleh Bimbim, lirik lagu ini jauh dari kata puitis. Slank memilih kata-kata lugas yang cenderung “kasar” untuk memotret realitas:
“Aku lahir di negeri kacau balau, orang-orangnya pada sakau-sakau”: Sebuah pembukaan yang menelanjangi kondisi mentalitas masyarakat dan penguasa.
“IQ rata-rata setara dengan monkey”: Kalimat provokatif yang menyoroti kualitas pendidikan dan etika publik yang kian merosot.
Nama “Fufufafa” sendiri diangkat dari fenomena digital di Twitter (atau yang kini dikenal sebagai X) yang sempat viral, menjadikannya sebuah simbol satir tentang jejak masa lalu yang terus membayangi kekuasaan saat ini.
Lagu ini memicu debat panas di media sosial. Sebagian netizen memuji Slank yang dianggap telah “kembali ke jalan yang benar” sebagai pengkritik sosial. Namun, tak sedikit pula yang melempar sindiran pedas, menyebut Slank baru kembali kritis setelah “jatah kursi” mereka berakhir.
Baca Juga: Harga Minyak Goreng di Solo Raya Naik, Pedagang Pasar Mulai Sepi Pembeli
Meski menuai pro-kontra, satu hal yang pasti: di tahun 2026 ini, Slank berhasil membuktikan bahwa mereka masih bisa menjadi pusat perhatian tanpa harus mengikuti tren pop yang manis.
Lagu Republik Fufufafa adalah pengingat bagi warga Solo dan seluruh Indonesia, bahwa fungsi musik bukan hanya untuk menghibur, tapi juga sebagai alarm saat negara sedang tidak baik-baik saja. (Arp/lz)
Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta
Editor : Laila Zakiya