Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Menanam Doa dalam Nada: Mengapa Nosstress Tetap Jadi “Sahabat” di Tengah Gemuruh Riuh Dunia

Laila Zakiya • Kamis, 7 Mei 2026 | 13:38 WIB
Potret Nosstres ketika Konser (Pinterest.id/Arisphotography)
Potret Nosstres ketika Konser (Pinterest.id/Arisphotography)

 
SOLOBALAPAN.COM - Di tengah gempuran musik dengan dentuman keras dan lirik yang serba instan, nama Nosstress tetap punya tempat spesial di telinga pendengarnya.

Band folk asal Bali yang digawangi oleh Man Angga dan Guna warma ini bukan sekadar menyanyi melainkan sedang bercerita tentang hidup kita yang seringkali lupa untuk “beristirahat”.

Baru-baru ini, Nosstress kembali menyapa dengan karya-karya terbarunya seperti single “Semakin Jauh” (Januari 2026) dan “Beri Waktu Hidup Tuk Tumbuh” (Februari 2025).

Melalui lagu-lagu ini, mereka membuktikan bahwa musik akustik yang sederhana tetap bisa menjadi kritik yang tajam sekaligus pelukan yang hangat bagi mereka yang lelah dengan sistem yang serba cepat.

Bagi warga Solo yang kental dengan budaya “slow living”, filosofi Nosstress terasa sangat dekat. Dalam album keenam mereka yang bertajuk “Lebih Dekat” (2024), Nosstress justru memilih jalur teknis yang sangat sederhana. Alih-alih studio megah, mereka lebih percaya pada kekuatan rasa dalam sebuah karya.

“Lagu 'Beri Waktu Hidup Tuk Tumbuh' itu seperti pengingat diri. Di dunia yang menuntut kita serba cepat, kadang kita lupa memberikan ruang bagi diri sendiri untuk sekadar tumbuh secara alami,” ungkap Guna Warma dalam satu kesempatan rilis lagu “Beri Waktu Hidup Tuk Tumbuh” , pada 14 Februari 2026 lalu.

Baca Juga: Ogah Dul Jaelani Nikah di KUA, Ahmad Dhani Pilih Gelar Ngunduh Mantu Sendiri Tanpa Maia Estianty?

Relevansi Nosstress tak pernah luntur karena isu yang mereka angkat adalah kegelisahan abadi manusia modern.

Tengok saja lagu legendaris mereka, “Tanam Saja”, yang masih sering dikumandangkan di panggung-panggung aktivisme lingkungan. Atau lagu-lagu di album “Istirahat” yang merekam betapa rapuhnya mental kita saat pandemi dan pasca-pandemi menghantam.

Di Solo sendiri, geliat musik folk semacam ini selalu mendapat ruang di hati anak muda. Karakter musiknya yang easy listening membuat pesan-pesan berat tentang sosial, politik, dan kemanusiaan bisa masuk tanpa terasa menggurui.

Tak hanya aktif merilis karya sendiri, Nosstress juga terus memperluas jangkauan dengan kolaborasi lintas genre, salah satunya keterlibatan mereka dalam lagu “Rindu Ku Rindu” bersama Mahalini (April 2026). Ini membuktikan bahwa kejujuran dalam lirik folk ala Nosstress bisa masuk ke ranah musik apa pun.

Bagi penikmat musik di Kota Bengawan, mendengarkan Nosstress adalah cara untuk tetap waras. Mereka mengingatkan kita bahwa di tengah kemacetan Slamet Riyadi atau hiruk-pikuk media sosial, masih ada “udara segar” yang bisa kita hirup lewat nada.

Sesuai dengan jargon yang selalu mereka bawa, musik adalah media untuk menyuarakan apa yang dirasakan rakyat jelata. Jika Anda sedang merasa dunia terlalu bising, mungkin ini saatnya memasang earphone dan membiarkan Nosstress bercerita bahwa hidup tak selalu soal berlari, tapi juga soal menanam dan merawat. (Arp/lz)

Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta

 

Editor : Laila Zakiya
#Nosstress #representasi lagu #karya musik #seni #tren