Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Udah Gak Searah? Biar Lagu Kusut – Fourtwenty yang Bantu Beresin Sisa-Sisa Harapanmu yang Berantakan

Laila Zakiya • Rabu, 6 Mei 2026 | 10:57 WIB
Potret Ari Lesmana – Fourtwenty (Pinterest.id/ringganu)
Potret Ari Lesmana – Fourtwenty (Pinterest.id/ringganu)

 
SOLOBALAPAN.COM - Gak ada yang lebih melelahkan daripada pura-pura amnesia di kota sekecil Solo.

Begitu hubungan kandas, setiap sudut kota seolah kompak jadi pengingat – mulai dari bangku Gatsu tempat kalian dulu deep talk, sampai aroma kopi di tempat nongkrong favorit yang sekarang rasanya berubah jadi area terlarang. 

Di titik seperti itu, lagu Kusut milik Fourtwnty bukan cuma sekadar playlist galau biasa. Lagu ini seperti mentor diam diam buat orang orang yang sedang berusaha membereskan sisa-sisa harapan yang berantakan. 

Karena tidak semua perpisahan datang dengan penjelasan yang rapi. Kadang, hubungan selesai begitu saja.

Tidak ada penutup yang jelas, tidak ada alasan final, hanya rasa yang perlahan hilang dan pertanyaan yang tetap tinggal. 

Lagu ini tidak bicara tentang patah hati yang dramatis. Tidak ada teriakan, tidak ada amarah besar.

Justru yang terasa adalah kekacauan yang sunyi, pikiran yang terus muter, kenangan yang datang tanpa izin, dan usaha kecil untuk terlihat baik-baik saja. Sama seperti benang kusut, semakin dipaksa ditarik, semakin sulit diurai. 

Baca Juga: Sekolah Rakyat di Sukoharjo Sasar Keluarga Miskin Ekstrem, Validasi Data Jadi Kunci

Fenomena ini sangat dekat dengan kehidupan anak muda hari ini.

Putus hubungan bukan cuma soal kehilangan pasangan, tapi juga kehilangan rutinitas, kehilangan tempat pulang, bahkan kehilangan versi diri yang dulu ada bersama orang itu. 

Makanya, move on sering kali bukan soal melupakan seseorang, tapi belajar hidup tanpa pola lama yang pernah terasa nyaman. 

Di Solo, hal kecil seperti lewat Jalan Slamet Riyadi, nongkrong di sekitar Ngarsopuro, atau sekadar mendengar lagu tertentu di perjalanan malam bisa mendadak menjadi mesin waktu yang menyebalkan. 

Daripada terus-terusan scrolling kolom archive, buka chat lama, atau nunggu “hilal” permintaan maaf yang mungkin nggak akan pernah datang, banyak orang akhirnya memilih satu cara paling sederhana yaitu diam, mendengarkan, lalu perlahan menerima. 

Baca Juga: Dibungkam? Ahmad Dhani Duga Ada Orang Penting di Balik Hilangnya Akun Instagram Miliknya usai 'Ngoceh' soal Maia Estianty

Kusut sering menjadi teman untuk proses itu. Bukan karena lagu ini menyelesaikan masalah, tapi karena ia membuat pendengarnya merasa dimengerti. Bahwa bingung itu wajar dan kecewa tidak harus selalu dijelaskan. 

Karena terkadang, satu-satunya cara untuk menemukan damai adalah berhenti menarik benang yang sudah terlalu kusut.

Dan mungkin, itu bukan akhir yang buruk. Mungkin itu justru awal dari hidup yang lebih ringan. (Arp/lz)

Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta.

Editor : Laila Zakiya
#Fourtwenty #Kusut #tren #lagu #solo