Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Demam Lagu Kicau Mania: Apa Arti Sebenarnya dari Liriknya hingga Bisa Jadi Lagu Kebangsaan Hustle Culture Gen Z?

Laila Zakiya • Rabu, 6 Mei 2026 | 09:00 WIB
Potret Ndarboy Genk (Pinterest.id/okisiswanto)
Potret Ndarboy Genk (Pinterest.id/okisiswanto)

 
SOLOBALAPAN.COM - Sekilas, lagu Kicau Mania – Ndarboy Genk & Banditoz Yaow 86 terdengar seperti anthem sederhana bagi para pecinta burung.

Liriknya bicara soal merawat piyik, memberi jangkrik, hingga pamit pergi gantang. Namun di balik tren dance dan iramanya yang mudah melekat di kepala, kita coba artikan makna dalam lagunya yang jauh lebih dekat dengan realitas hidup anak muda yaitu perjuangan kelas pekerja. 

Bukan sekadar lagu tentang burung, Kicau Mania perlahan menjelma menjadi semacam “lagu kebangsaan” baru bagi Gen Z karena alunan melodi dan tren gerakannya di media sosial di tengah tekanan produktivitas, kerja sambilan, dan perjuangan mencari uang di era serba cepat. 

Apabila kita bedah, salah satu potongan lirik awalnya adalah: 

Tak rumat seko piyik, tak loloh nganggo jangkrik, aku pamit nggantang yo dik, mugo rejekine apik.” 

Baca Juga: Stok Hewan Kurban Boyolali Aman, Pemotongan di RPH Ampel Diprediksi Melonjak

Secara harfiah, lirik ini menggambarkan seseorang yang merawat burung sejak masih piyik (anakan), memberi makan dengan telaten, lalu membawanya ke arena gantangan atau lomba burung dengan harapan mendapat hasil baik. 

Akan tetapi jika dibaca lebih dalam, lirik ini terasa seperti metafora kehidupan modern. Ngrumat piyik bisa dimaknai sebagai proses membangun sesuatu dari nol – entah itu usaha kecil, karier, relasi, atau bahkan versi terbaik dari diri sendiri. Tidak instan, butuh kesabaran, perhatian, dan konsistensi. 

Merawat mimpi itu mirip memelihara piyik yaitu hasilnya tidak langsung terlihat, tapi harus tetap dijaga setiap hari.

Bagi Gen Z, fase ini sangat familiar. Mulai dari magang dengan bayaran minim, kerja freelance, membuka usaha kecil-kecilan, hingga terus belajar di tengah ketidakpastian. Semua itu adalah bentuk ngrumat piyik dalam kehidupan nyata. 

Sementara istilah gantang dalam dunia kicau berarti membawa burung ke arena lomba untuk diuji kualitasnya.

Dalam konteks sosial hari ini, itu seperti keberanian untuk “show up” – berani tampil, berani dinilai, dan siap gagal di depan banyak orang.

Baca Juga: Dua Eks Pengurus KONI Solo Jadi Tersangka, Modus Pajak Dipotong Tapi Tak Disetor Rugikan Negara Rp1,05 Miliar

Banyak orang punya mimpi, tetapi tidak semua berani “menggantungkan” hasil jerih payahnya di ruang publik. 

Lirik lain yang juga terasa sangat kuat secara arti adalah “ora gantang ora mangan” yaitu jika tidak berjuang, maka tidak ada hasil. Kalimat ini menjadi simbol kerasnya realitas hidup pekerja muda hari ini.

Fenomena ini membuat lagu Kicau Mania terasa sangat relate dengan budaya hustle culture, meskipun banyak yang tidak melihat arti di baliknya, hanya mengikuti tren dance di TikTok. 

Budaya kicau yang sering dianggap tradisional tiba tiba terasa modern, selain karna viral melodinya yang enak, nilai yang dibawanya juga sangat relevan seperti ketekunan, kesabaran, dan keberanian menghadapi risiko. 

Dengan demikian di balik tren dance di media sosial, lagu Kicau Mania memili arti tentang manusia yang terus berusaha hidup layak.

Tentang mereka yang setiap hari merawat sesuatu yang belum tentu berhasil, tetapi tetap dilakukan karena percaya bahwa rezeki yang baik selalu datang pada proses yang dirawat dengan sabar. (Arp/lz)

Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta.

Editor : Laila Zakiya
#Ndraboy Genk #kicau mania #tren #Gen Z #lagu