Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Lagu Hati-Hati di Jalan – Tulus Mengajarkan Pada Gen Z Untuk Memaknai Perpisahan Dengan Elegan

Laila Zakiya • Sabtu, 2 Mei 2026 | 13:51 WIB
Ilustrasi Patah Hati (Pexels.com/freestocks.org)
Ilustrasi Patah Hati (Pexels.com/freestocks.org)

 

SOLOBALAPAN.COM - Tidak semua hubungan harus berakhir dengan pertengkaran, saling menyalahkan, atau perang sindiran di media sosial.

Di tengah budaya percintaan yang sering dipenuhi istilah red flag, ghosting, hingga hubungan tanpa status, lagu Hati-Hati di Jalan dari Tulus menawarkan cara memaknai perpisahan dengan tenang dan penuh doa baik. 

Lagu ini tidak bicara tentang patah hati yang meledak-ledak, tetapi tentang menerima bahwa dua orang bisa saja saling mencintai, namun tidak ditakdirkan berjalan ke tujuan yang sama.

Kalimat sederhana seperti “Kita adalah ketidakmungkinan yang dipaksakan” menjadi representasi banyak hubungan modern yang akhirnya kandas bukan karena kurang cinta, tetapi karena realitas. 

Bagi banyak Gen Z, lagu ini mengubah cara memandang perpisahan. Putus cinta tidak lagi selalu identik dengan blokir nomor, menghapus foto, atau saling menjatuhkan lewat close friends

Fenomena ini berkaitan dengan konsep high-value person yang belakangan ramai di media sosial seperti TikTok dan Instagram.

Sosok yang dianggap “bernilai tinggi” bukan hanya dinilai dari karier atau penampilan, tetapi juga dari kematangan emosional – termasuk cara ia mengakhiri hubungan. 

Baca Juga: Bukan Sekadar Camat! Eks PSG Layvin Kurzawa Cetak Assist Perdana dan Bawa Persib Tempel Ketat Borneo FC

Berpisah dengan dewasa dianggap sebagai bentuk kontrol diri dan penghormatan terhadap hubungan yang pernah ada. Tidak semua luka harus dipertontonkan, dan tidak semua kecewa harus dibalas dengan kebencian. 

Menurut laporan American Psychological Association, proses move on yang sehat justru dimulai dari penerimaan, bukan penolakan. Mengakui bahwa hubungan telah selesai tanpa harus menciptakan konflik baru menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan emosional. 

Dalam konteks ini, Hati-Hati di Jalan – Tulus terasa seperti panduan halus tentang dating etiquette. Lagu ini mengingatkan bahwa mencintai seseorang juga berarti tahu kapan harus melepaskan dengan baik. 

Etika dalam hubungan tidak hanya soal bagaimana memulai, tetapi juga bagaimana mengakhiri. Mengucapkan terima kasih, menjaga batas, dan tetap mendoakan yang terbaik menjadi bentuk kedewasaan yang sering terlupakan. 

Hal ini juga menunjukkan adanya perubahan cara Gen Z dalam memaknai cinta. Hubungan tidak hanya selalu tentang memiliki, tetapi juga tentang menghargai proses dan menerima bahwa tidak semua cerita harus berakhir bersama. 

Di tengah budaya yang sering meromantisasi drama, pilihan untuk berpisah dengan damai justru terasa lebih revolusioner. 

Banyak anak muda kini mulai memahami bahwa move on bukan tentang siapa yang lebih cepat punya pasangan baru, tetapi tentang siapa yang berhasil pulih tanpa kehilangan dirinya sendiri. 

Dengan demikian, lagu ini tidak hanya menjadi soundtrack ketika patah hati, tetapi juga pelajaran tentang cara untuk mencintai dengan dewasa. Karena kadang, bentuk cinta paling tulus bukanlah bertahan mati-matian, melainkan melepaskan sambil berkata “hati-hati di jalan”. (Arp/lz)

Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta.

Editor : Laila Zakiya
#Tulus #Hati-hati di Jalan #tren #Gen Z #lagu