SOLOBALAPAN.COM - Di tengah dunia yang terus menuntut kita untuk bergerak lebih cepat, lebih sukses, dan lebih sempurna, kelelahan sering datang tanpa aba aba. Pekerja muda, mahasiswa tingkat akhir, hingga para perantau di kota besar perlahan akrab dengan satu hal yang sama yaitu lelah yang sulit dijelaskan.
Di momen seperti itu, lagu Diri dari Tulus hadir bukan sekadar sebagai musik pengantar tidur, melainkan seperti ritual kecil untuk kembali pulang pada diri sendiri.
Lewat liriknya yang lembut namun menampar pelan, Diri berbicara tentang penerimaan, tentang berdamai dengan luka, dan tentang keberanian untuk tidak selalu menjadi kuat.
Salah satu penggalan lirik yang paling banyak dikutip adalah “Luka, luka, hilanglah luka.. Biar tentram yang berkuasa” kini bahkan berubah menjadi semacam mantra bagi generasi muda yang sedang belajar mempraktikkan mindfulness.
Fenomena ini terasa kuat di tengah tren slow living yang semakin digemari. Berbeda dengan budaya hustle yang memuja kesibukan tanpa henti, slow living justru mengajak orang untuk hidup lebih sadar, lebih pelan, dan lebih jujur terhadap kapasitas diri.
Di media sosial seperti TikTok dan Instagram, lagu Diri sering menjadi latar video journaling, morning routine sederhana, hingga momen seseorang memilih untuk sejenak istirahat.
Menurut American Psychological Association, generasi muda saat ini menjadi kelompok yang paling rentan mengalami tekanan emosional akibat tuntutan sosial, karier, dan ekspektasi hidup yang terlalu tinggi.
Banyak dari mereka mengalami burnout bahkan sebelum benar benar merasa “sukses”.
Sementara itu, tren mindfulness juga meningkat secara global. Platform seperti Google mencatat pencarian terkait self-healing, mental reset, dan slow living terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, menandakan adanya kebutuhan besar terhadap ruang jeda.
Dalam konteks ini, Diri menjadi lebih dari sekadar lagu. Ia seperti pengingat bahwa hidup tidak selalu harus dibuktikan lewat pencapaian.
Tulus tidak menawarkan motivasi bombastis. Ia justru mengajak pendengarnya untuk duduk bersama luka, mengakuinya, lalu perlahan melepaskannya.
Bagi banyak pekerja muda, mendengarkan lagu ini sepulang kerja atau saat malam terlalu sunyi terasa seperti terapi sederhana. Tidak menyelesaikan semua masalah, tetapi cukup untuk membuat napas terasa lebih lega.
Fenomena ini menunjukkan bahwa self-care tidak selalu berarti liburan mahal atau belanja impulsif. Terkadang, ia hanya sesederhana menerima bahwa hari ini kita lelah dan itu tidak apa apa.
Dengan demikian, Diri menjadi simbol dari gaya hidup minimalis emosional untuk melepaskan yang tidak perlu, memeluk yang tersisa, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas.
Di tengah dunia yang sibuk mengajarkan cara mengejar, lagu ini justru mengajarkan cara untuk sejenak berhenti. Dan mungkin, di situlah bentuk healing yang paling jujur yaitu disaat kita akhirnya belajar untuk tidak meninggalkan diri sendiri. (Arp/lz)
Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta.
Editor : Laila Zakiya