Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

33 Kali Mengetuk Langit: Eksperimen Berani Perunggu Memasukkan Nuansa Islami ke Dalam Balutan Rock Alternatif

Laila Zakiya • Kamis, 30 April 2026 | 09:12 WIB
Suasana Konser Perunggu (Pinterest.id/meduza)
Suasana Konser Perunggu (Pinterest.id/meduza)

 

SOLOBALAPAN.COM - Mengagungkan Tuhan kini tak lagi harus selalu lewat nada nada mendayu yang tenang. Band rock alternatif asal Jakarta, Perunggu, melakukan sebuah eksperimen berani yang berhasil mendobrak batas antara musik cadas dan nilai spiritual lewat lagu mereka yang bertajuk 33x. 

Dengan tajuk “33 Kali Mengetuk Langit”, Perunggu sukses membungkus esensi zikir dalam balutan distorsi gitar yang bertenaga dan energi rock yang meledak ledak.

Pendekatan ini bukan sekadar urusan teknis musik, melainkan sebuah pernyataan gaya hidup baru bagi generasi muda bahwa spiritualitas bisa dirayakan dengan volume maksimal tanpa kehilangan kesakralannya. 

Fenomena ini menjadi menarik karena selama ini musik bernuansa religius kerap identik dengan aransemen yang lembut dan kontemplatif. Namun melalui 33x, Perunggu justru menghadirkan pendekatan sebaliknya yang intens, penuh tekanan, namun tetap bermakna. 

Di platform seperti Spotify dan TikTok, lagu ini mulai banyak digunakan sebagai latar konten reflektif. Mulai dari visual konser, perjalanan malam, hingga momen personal yang penuh tekanan, semuanya terasa selaras dengan energi yang dibawa. 

Baca Juga: Hari Tari Dunia di Sukoharjo Meriah, Ratusan Penari Tampil Bersama Mbah Mugi

Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa generasi muda saat ini semakin terbuka terhadap eksplorasi identitas, termasuk dalam hal spiritualitas. Mereka tidak lagi terpaku pada satu bentuk ekspresi, tetapi mencari cara yang lebih personal dan relevan dengan kehidupan sehari hari. 

Di sisi lain, tren global juga menunjukkan pergeseran serupa. Musik tidak lagi dibatasi oleh genre atau tema tertentu. Nilai nilai yang dulu dianggap bertolak belakang kini justru bisa bertemu dalam satu karya. 

Perunggu membaca ruang ini dengan cukup tepat. Mereka tidak hanya menawarkan musik, tetapi juga perspektif baru bahwa menjadi religius tidak harus meninggalkan identitas diri. 

Pendekatan ini membuat lagu 33x terasa dekat dengan Gen Z yang tumbuh di tengah keberagaman ekspresi. Mereka tidak ingin memilih antara menjadi “spiritual” atau “bebas”, tetapi ingin menemukan titik temu di antara keduanya. 

Baca Juga: Plafon SDN Ngasinan IV Ambrol, Disdikbud Sukoharjo Lakukan Perbaikan Darurat

Dengan demikian, lagu ini bukan hanya eksperimen musikal, tetapi juga refleksi dari perubahan cara pandang generasi muda terhadap iman dan identitas. 

Di tengah dunia yang sering memisahkan antara yang sakral dan yang ekspresif, 33x justru menyatukan keduanya. Dan mungkin mengetuk langit tidak selalu harus pelan. Kadang, justru lewat suara yang paling keras, seseorang bisa merasa paling dekat. (Arp/lz)

Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta.

Editor : Laila Zakiya
#Perunggu #spiritualitas #rock alternatif #viral #tren