Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Tanpa Tembok, Tanpa Batas: Menelaah Arsitektur Pendopo Yang Membentuk Cara Mendengar dan Bermusik Orang Solo

Laila Zakiya • Selasa, 28 April 2026 | 17:48 WIB
Potret Pendopo TBJT. (Taman Budaya Jawa Tengah)
Potret Pendopo TBJT. (Taman Budaya Jawa Tengah)

SOLOBALAPAN.COM - Jika kebanyakan kota membangun ruang musik dengan dinding kedap suara dan teknologi modern, Solo justru punya pendekatan yang berbeda sejak lama.

Di kota ini, musik tumbuh di ruang terbuka seperti di pendopo, di halaman, bahkan di antara suara angin dan lalu lintas. 

Arsitektur pendopo yang tanpa tembok ternyata bukan sekadar pilihan estetika atau tradisi, tetapi juga membentuk cara orang mendengar dan memainkan musik. Ruang terbuka membuat suara tidak “dikurung”, melainkan berbaur dengan lingkungan sekitar. 

Di tempat seperti Taman Budaya Jawa Tengah, pertunjukan musik sering kali tidak hanya berisi bunyi instrumen, tetapi juga keramaian penonton turut mengisi dan menciptakan ambience yang berbeda. 

Konsep ini secara tidak langsung berkaitan dengan teknik Field Recording, yaitu metode merekam suara langsung dari lingkungan nyata tanpa isolasi penuh. Teknik ini banyak digunakan dalam musik kontemporer dan dokumentasi audio untuk menangkap atmosfer asli suatu tempat. 

Menariknya, yang dalam dunia modern disebut field recording, di Solo justru sudah menjadi bagian alami dari praktik bermusik sejak lama. 

Baca Juga: Saat Sungai Mulai Mengering, Warga Boyolali Bersiap Hadapi Kemarau Panjang

Menurut berbagai kajian literatur mengenai arsitektur Jawa, pendopo dirancang untuk sirkulasi udara dan keterbukaan visual. Namun efek sampingnya adalah akustik yang unik yaitu suara tidak memantul seperti di ruangan tertutup, melainkan menyebar dan bercampur dengan lingkungan. 

Hal ini menciptakan pengalaman mendengar yang berbeda. Tidak ada “kesunyian absolut”, akan tetapi yang ada justru lapisan suara yang saling melengkapi. 

Fenomena ini sering membuat musisi luar negeri terkesan ketika melakukan rekaman atau residensi di Solo. Mereka menemukan bahwa hasil rekaman di ruang terbuka memiliki karakter yang tidak bisa direplikasi di studio modern. 

Alih alih dianggap gangguan, suara lingkungan justru menjadi bagian dari komposisi. Dalam beberapa proyek musik eksperimental, suara burung atau gemerisik daun bahkan dipertahankan sebagai elemen utama. 

Di era digital yang serba bersih dan presisi, pendekatan ini terasa kontras. Banyak produksi musik saat ini justru berusaha menghilangkan “noise”, sementara di Solo, noise justru menjadi identitas. 

Data dari Kementerian Kebudayaan RI menunjukkan bahwa praktik seni berbasis ruang tradisional masih menjadi bagian penting dalam ekosistem budaya Jawa, termasuk dalam musik dan pertunjukan. 

Baca Juga: Jangan Sembarangan Share! Geger Video Penggerebekan Daycare Diduga Oknum Penganiayaan Anak di Jogja Tersebar, Wajah Bocah Tak Bersalah Harusnya Dilindungi

Selain itu, berkembangnya tren musik ambient dan eksperimental secara global juga membuat pendekatan seperti ini kembali relevan. Pendengar mulai mencari pengalaman yang lebih organik dan tidak terlalu dipoles. 

Di sisi lain, ruang seperti pendopo juga membentuk cara mendengar para musisi lokal. Mereka terbiasa mendengar banyak lapisan suara sekaligus, sehingga lebih adaptif terhadap dinamika lingkungan. 

Hal ini berpengaruh pada cara mereka bermain, menjadi lebih fleksibel, lebih responsif, dan tidak selalu bergantung pada struktur yang kaku. 

Dengan demikian, arsitektur pendopo bukan hanya soal bentuk bangunan, tetapi juga tentang cara manusia berinteraksi dengan suara. (Arp/lz)

Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta.

Editor : Laila Zakiya
#pendopo #Taman Budaya Jawa Tengah #musik #solo