Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Fenomena Lagu Garam & Madu – Jemsi, Naykilla, dan Tenxi, Membuat Kita Lebih Suka Curhat Masalah Hubungan di Media Sosial Ketimbang Konsultasi ke Ahli

Laila Zakiya • Jumat, 24 April 2026 | 15:04 WIB

Ilustrasi Curhat di Media Sosial (Pexels.com/MartProduction)
Ilustrasi Curhat di Media Sosial (Pexels.com/MartProduction)

SOLOBALAPAN.COM - Hubungan asmara selalu punya dua sisi manis seperti madu, tapi juga bisa pedih seperti garam.

Lagu Garam & Madu dari Jemsi, Naykilla, dan Tenxi memicu publik untuk terbuka pada permasalahan yang ada dalam dirinya, caranya untuk mengungkapkan pun mulai berubah.

Alih-alih menyelesaikan masalah secara privat atau berkonsultasi dengan ahli, banyak yang justru memilih 'curhat' di media sosial. 

Fenomena ini terlihat jelas saat meledaknya Lagu tersebut di platform seperti TikTok dan Instagram.

Banyak komentar berisi keluhan hubungan, sindiran untuk pasangan, hingga cerita patah hati kini menjadi bumbu yang membawa music tersebut melejit.

Alhasil apa yang dulu dianggap ranah personal, kini menjadi konten publik. Istilah oversharing pun semakin sering digunakan untuk menggambarkan kebiasaan membagikan hal hal yang terlalu pribadi ke ruang digital.

Yang harusnya diselesaikan berdua, malah jadi tontonan semua orang.”

Kalimat ini menggambarkan perubahan besar dalam cara orang memaknai privasi.

Bagi sebagian orang, membagikan masalah ke media sosial terasa seperti bentuk pelepasan emosi. Ada rasa lega ketika cerita didengar, bahkan oleh orang asing sekalipun. 

Namun di sisi lain, kebiasaan ini juga akan membawa konsekuensi.

Respon dari warganet yang beragam, mulai dari dukungan hingga kritik bisa saja memengaruhi kondisi emosional seseorang.

Menurut World Health Organization, kesehatan mental sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, termasuk interaksi di ruang digital.

Paparan komentar negatif atau tekanan sosial dapat memperburuk kondisi psikologis, terutama saat seseorang sedang berada dalam situasi rentan. 

Apabila kita lihat bersama, media sosial menawarkan sesuatu yang instan seperti respons cepat, validasi, dan rasa tidak sendirian.

Hal ini membuat banyak orang merasa lebih nyaman 'bercerita' di sana. Namun, tidak semua respons yang diterima bersifat konstruktif. 

Dalam banyak kasus, opini publik justru bisa memperkeruh situasi, apalagi jika cerita yang dibagikan hanya satu sisi.

Peristiwa ini menunjukkan bagaimana batas antara ruang privat dan publik semakin kabur.

Apa yang dibagikan hari ini bisa bertahan lama sebagai jejak digital, bahkan ketika masalahnya sudah selesai. 

Di sisi lain, muncul kesadaran baru tentang pentingnya menjaga batas.

Tidak semua hal harus dibagikan, dan tidak semua masalah perlu diketahui publik.

Dengan demikian, fenomena interpretasi dari lagu garam & madu di media sosial menjadi refleksi dari cara baru manusia berinteraksi dengan emosi dan teknologi. (Arp/lz)

 Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi di ISI Surakarta.

Editor : Laila Zakiya
#oversharing #tren #lagu #fenomena