Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Stop Mencari Pasangan 'Green Flag' di Dating Apps, Rahvayana Adalah Bukti Bahwa Cinta Sejati Memang Sering Ugal-Ugalan

Laila Zakiya • Kamis, 23 April 2026 | 18:47 WIB

 

Cover Buku Rahvayana (Goodreads.com)
Cover Buku Rahvayana (Goodreads.com)

SOLOBALAPAN.COM - Pernah nggak sih ngerasa capek scroll dating apps, sibuk ngecek siapa yang paling 'green flag', tapi ujung-ujungnya malah kejebak hubungan yang terasa datar?

Di tahun 2026, ketika cara orang mencari pasangan makin dipengaruhi algoritma, banyak yang mulai mempertanyakan, apakah cinta bisa benar benar diukur dari checklist?

Di tengah pola hubungan yang semakin terstruktur dan 'aman', novel Rahvayana karya Sujiwo Tejo kembali ramai dibicarakan.

Bukan karena menawarkan tips hubungan ideal, tetapi justru karena menghadirkan perspektif yang berbeda yaitu cinta yang sejati tidak selalu rapi.

Melalui tokoh Rahwana, buku ini menghadirkan sudut pandang yang tidak biasa.

Ia bukan dituliskan sebagai sosok 'green flag' dalam standar masa kini, bahkan cenderung dianggap antagonis.

Akan tetapi dalam sudut pandang Rahwana, cinta bukan tentang terlihat baik, melainkan tentang keberanian untuk terlibat sepenuhnya.

Baca Juga: Berbeda dari Desa, Pembiayaan Koperasi Kelurahan di Solo Berpotensi Tekan Fiskal Daerah

Aku mencintaimu dengan caraku, meskipun dunia menyebutku salah.

Kutipan ini menjadi gambaran bahwa cinta dalam Rahvayana tidak selalu mengikuti aturan sosial. Ia hadir dalam bentuk yang kompleks, penuh konflik, bahkan sering kali tidak nyaman.

Jika dibandingkan dengan fenomena saat ini, banyak hubungan dibangun dengan pendekatan yang sangat rasional.

Profil disusun rapi, minat dicocokkan, dan komunikasi diatur sedemikian rupa agar terlihat ideal.

Namun, di balik itu semua, tidak sedikit yang merasa hubungan tersebut kehilangan makna kedalamannya.

Fenomena seperti HTS (hubungan tanpa status) menjadi contoh bagaimana hubungan bisa berjalan tanpa arah yang jelas. Ada kedekatan, tetapi tidak ada komitmen.

Di sisi lain, Rahvayana justru memperlihatkan sesuatu yang bertolak belakang.

Baca Juga: Awal Mula Kasus Arisan Twins SJ Bali Viral di Sosmed, Kerugian Capai Rp18 Miliar Hingga Diwarnai Aksi Jambak-jambakan

Cinta digambarkan sebagai sesuatu yang penuh dengan resiko, tidak selalu logis, dan kadang sulit dijelaskan. Namun justru di situlah letak sejatinya.

Dalam konteks media sosial seperti TikTok dan Instagram, standar hubungan sering kali dibentuk oleh narasi yang seragam.

'Green flag' menjadi simbol ideal, sementara segala sesuatu yang tidak sesuai dianggap red flag.

Padahal, realitas hubungan tidak selalu sesederhana itu. Manusia memiliki sisi kompleks yang tidak bisa sepenuhnya dikategorikan.

Dalam banyak kasus, hubungan yang bermakna justru lahir dari proses yang tidak selalu mulus.

Bukan berarti membenarkan hubungan yang tidak sehat, Akan tetapi memahami bahwa cinta tidak selalu bisa dikontrol sepenuhnya. Ada emosi, konflik, dan dinamika yang menjadi bagian dari proses tersebut.

Melalui Rahvayana, Sujiwo Tejo seolah mengajak pembaca untuk melihat ulang cara memaknai cinta. Bahwa tidak semua hal harus sesuai standar untuk dianggap valid.

Di tengah budaya yang semakin menekankan kesempurnaan, mungkin yang perlu diingat adalah bahwa cinta bukan proyek yang harus selalu berhasil, tetapi pengalaman yang harus dijalani.

Dengan demikian, berhenti mencari 'green flag' bukan berarti mengabaikan nilai, tetapi memberi ruang pada cinta yang sejati. Sebab seperti yang tergambar dalam kisah Rahwana, cinta yang paling nyata sering kali bukan yang paling rapi, melainkan yang paling berani untuk dirasakan dan diperjuangkan. (Arp/lz)

 Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta.

Editor : Laila Zakiya
#Rahvayana #Sujiwo Tedjo #sinopsis #novel