Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Banyak Yang Mengekspresikan Kasih Sayang Di Media Sosial, Mari Menalaah Budaya Soft-Gifting Melalui Lagu Gala Bunga Matahari

Laila Zakiya • Kamis, 23 April 2026 | 14:07 WIB

Ilustrasi Soft Gifting ke pasangan (Pexels.com/Nguyenquanbao)
Ilustrasi Soft Gifting ke pasangan (Pexels.com/Nguyenquanbao)

 

SOLOBALAPAN.COM - Memberi hadiah kini tidak harus selalu mahal atau besar. Di masa kini, muncul tren baru yang disebut soft-gifting atau memberikan hal kecil, sederhana, tapi penuh makna.

Mulai dari bunga, catatan singkat, hingga benda simbolik, semua jadi cara baru untuk mengekspresikan perasaan. 

Rasanya peristiwa ini tidak mungkin muncul begitu saja. Salah satu pemicunya bisa datang dari musik, seperti lagu Gala Bunga Matahari milik Sal Priadi yang viral di media sosial.

Lagu tersebut bukan hanya didengar, tetapi juga diterjemahkan ke dalam tindakan.

Banyak pengguna Gen Z mulai membagikan momen ketika mereka memberikan bunga matahari kepada orang terdekat, terinspirasi dari nuansa hangat yang dibangun dalam lagu.

Kadang yang sederhana justru paling terasa.”

Baca Juga: Kasus TB Masih Ratusan, Pemkot Solo Andalkan Tracing Massal dan Renovasi Rumah

Meski bukan kutipan langsung dari lirik, pesan semacam ini menjadi benang merah dari tren yang berkembang. Hadiah kecil tidak lagi dilihat dari harga, tetapi dari makna yang dibawa.

Fenomena soft-gifting ini menunjukkan adanya pergeseran cara generasi muda mengekspresikan kasih sayang.

Jika sebelumnya hadiah sering dikaitkan dengan nilai materi, kini yang lebih penting adalah simbol dan perhatian. 

Bunga misalnya, menjadi simbol yang sering digunakan. Bukan karena eksklusif, tetapi karena mudah didapat dan memiliki makna yang hangat.

Hal sederhana seperti ini justru terasa lebih personal dibanding hadiah yang besar namun generik. 

Tren ini juga berkaitan dengan cara media sosial bekerja. Konten yang autentik dan emosional cenderung lebih mudah diterima dibanding yang terlihat terlalu dibuat buat.

Memberi hadiah kecil lalu membagikannya dalam bentuk konten video menjadi luapan ekspresi yang terasa hangat dan tulus.

Menurut pengamatan tren digital, generasi saat ini cenderung lebih menghargai pengalaman emosional dibanding kepemilikan materi. Hal ini membuat gestur kecil menjadi terasa lebih bermakna.

Baca Juga: UTBK Undip 2026 Gempar! Peserta Curang Tanam Alat Bantu Dengar di Telinga Hingga Harus ke Dokter THT, Begini Kronologinya

Di sisi lain, musik berperan sebagai pemicu emosi kolektif. Lagu seperti Gala Bunga Matahari tidak hanya dinikmati secara personal, tetapi juga membentuk cara orang melihat dan merayakan sebuah hubungan.

Hal ini menunjukkan bahwa musik tidak berhenti sebagai hiburan. Ia bisa memengaruhi perilaku, bahkan membentuk budaya baru dalam interaksi sosial.

Akan tetapi, seperti tren lainnya, soft-gifting juga menghadirkan pertanyaan. Apakah tindakan ini murni bentuk ekspresi, atau mulai bergeser menjadi konten yang harus terlihat di media sosial?

Di tengah dinamika tersebut, satu hal yang tetap menarik adalah bagaimana hal kecil kembali mendapatkan tempat.

Pada dunia yang sering menuntut sesuatu yang besar dan spektakuler, justru gestur menjadi cara untuk bisa terhubung melalui hal sederhana.

Dengan demikian, tren soft-gifting bukan sekadar gaya baru, tetapi refleksi dari kebutuhan untuk kembali pada hal hal yang lebih personal. Dan dalam hal ini, musik menjadi jembatan yang menghubungkan perasaan dengan tindakan. (Arp/lz)

Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta.

Editor : Laila Zakiya
#soft-gifting #Sal Priadi #Gala Bunga Matahari #tren #lagu