SOLOBALAPAN.COM - Di tengah kehidupan kota yang serba cepat dan penuh tekanan, cara orang memaknai agama mulai berubah.
Jika dulu spiritualitas sering dikaitkan dengan aturan yang kaku dan rasa takut, kini banyak yang mencari pendekatan yang lebih hangat, ringan, dan membebaskan.
Fenomena ini terlihat dari meningkatnya minat terhadap konsep spiritualitas terbuka dengan cara memaknai agama yang tidak menekan, tetapi justru memberi ruang untuk bertanya, merasakan, dan menemukan makna secara personal.
Buku Tuhan Maha Asyik karya Sudjiwo Tedjo menjadi salah satu rujukan bacaan yang banyak diperbincangkan, terutama di kalangan perantauan.
Buku ini menghadirkan percakapan anak anak seperti Dharmala dan teman temannya dalam membicarakan Tuhan dengan cara yang ringan, jenaka, namun tetap filosofis.
Alih alih menggunakan bahasa yang berat, buku ini justru menyederhanakan hal hal yang sering dianggap rumit.
Pertanyaan tentang Tuhan, kehidupan, dan makna, tidak disampaikan dengan nada menggurui, tetapi melalui dialog yang terasa dekat dengan kehidupan sehari hari.
“Kalau Tuhan itu Maha Asyik, kenapa kita harus takut untuk mendekat?”
Pertanyaan sederhana yang diambil dari buku ini menjadi pintu masuk untuk melihat agama dari sudut pandang yang berbeda. Bukan sebagai sesuatu yang menakutkan, tetapi sebagai ruang yang menyenangkan untuk dikenali.
Di era digital, banyak orang merasa lelah dengan tekanan, baik dari pekerjaan maupun dari lingkungan sosial.
Dalam kondisi ini, kebutuhan akan ketenangan batin menjadi semakin penting. Akan tetapi, tidak semua orang menemukan kenyamanan dalam pendekatan religius yang formal.
Hal ini membuat buku Tuhan Maha Asyik terasa relevan. Ia menawarkan alternatif cara memaknai agama yang lebih santai, tanpa kehilangan kedalaman makna.
Dalam konteks ini, pendekatan yang ditawarkan dalam buku Tuhan Maha Asyik dapat menjadi jembatan. Ia mengajak pembaca untuk kembali melihat hubungan hambanya dengan Tuhan sebagai sesuatu yang dekat dan manusiawi.
Bukan berarti mengurangi nilai kesakralan, tetapi justru mengembalikannya pada esensi sebuah hubungan yang dilandasi rasa cinta.
Di tengah dunia yang semakin kompleks, pendekatan seperti ini memberi ruang kita untuk bernapas. Bahwa beragama tidak selalu harus berat, dan memahami Tuhan tidak selalu harus dimulai dari hal hal yang rumit.
Dengan demikian, Tuhan Maha Asyik tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga refleksi tentang bagaimana spiritualitas bisa hadir dalam bentuk yang lebih ramah.
Dan mungkin, di tengah hiruk pikuk kehidupan perantauan, cara paling sederhana untuk menemukan kedamaian adalah dengan mendekat tanpa rasa takut dan mulai melihat bahwa Tuhan memang “asyik” untuk dikenali. (Arp/lz)
Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi di ISI Surakarta.
Editor : Laila Zakiya