Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Jenuh dengan Hiruk Pikuk Kota? Buku Indonesia Bagian Dari Desa Saya Ungkap Kedamaian Hidup dari Sudut Pandang Desa

Laila Zakiya • Selasa, 21 April 2026 | 16:05 WIB
Cover Buku Indonesia Bagian Dari Desa Saya (Caknun.com)
Cover Buku Indonesia Bagian Dari Desa Saya (Caknun.com)

 

SOLOBALAPAN.COM - Di tengah padatnya hiruk pikuk dunia, muncul fenomena menarik bahwa banyak orang mulai merasa jenuh.

Rutinitas yang repetitif, tekanan kerja, hingga bisingnya media digital membuat sebagian orang mencari alternatif untuk mencoba hidup dengan cara yang lebih tenang dan bermakna.

Tren seperti berkebun, menjalani hidup organik, hingga kembali ke desa bukan lagi sekadar gaya hidup, tetapi menjadi bentuk pelarian diri untuk bisa kembali menemukan makna.

Di titik ini, gagasan yang ditawarkan Emha Ainun Nadjib atau yang akrab dipanggil Cak Nun terasa semakin relevan.

Melalui buku Indonesia Bagian dari Desa Saya, Cak Nun mengajak pembaca melihat Indonesia dari sudut pandang yang berbeda yang dalam bukunya adalah dari “teras desa”.

Buku ini berisi catatan reflektif yang memotret persoalan nasional dengan kacamata masyarakat desa yang sederhana dan apa adanya.

Alih alih melihat desa sebagai sesuatu yang tertinggal, Cak Nun justru menempatkannya sebagai pusat tumbuhnya nilai nilai kehidupan. Desa bukan sekadar ruang geografis, melainkan ruang berpikir yang lebih dekat dengan keseimbangan hidup.

Baca Juga: KALASAM di Sragen, Saat Sampah Tak Lagi Jadi Masalah Tapi Peluang

Indonesia bukan hanya kota kota besar, tapi juga denyut kecil dari desa desa yang sering kita lupakan.”

Penggalan kalimat yang berasal dari buku ini menggambarkan bahwa modernitas tidak harus berarti meninggalkan akar. Justru, dalam banyak hal, nilai nilai yang ada di desa bisa menjadi penyeimbang di tengah kehidupan modern.

Fenomena urban yang mulai kembali melirik desa menunjukkan adanya kebutuhan untuk memperlambat ritme hidup. Banyak yang mulai menyadari bahwa kemajuan teknologi dan akses tidak selalu sejalan dengan ketenangan batin.

Di sisi lain, gaya hidup digital yang terus berkembang sering kali membuat jarak antara manusia dan realitas semakin lebar. Kehidupan lebih banyak terjadi di layar genggam, sementara interaksi langsung menjadi semakin berkurang.

Dalam konteks ini, perspektif “teras desa” menawarkan sesuatu yang berbeda.

Baca Juga: Kisah Lie Tjian Tjoen dalam Gerak Tari Nindak Nyonya, Mengisahkan Perjuangan Perempuan Menuju Kebebasan

Ia mengajak untuk kembali melihat hal hal sederhana, seperti relasi antar manusia, kedekatan dengan alam, dan kesadaran akan lingkungan sekitar.

Hal ini bukan berarti menolak modernitas, tetapi mengimbanginya. Cak Nun tidak mengajak untuk kembali sepenuhnya ke desa, melainkan membawa nilai nilai desa ke dalam cara hidup hari ini.

Melalui buku Indonesia Bagian dari Desa Saya, pembaca diajak untuk memahami bahwa kemajuan tidak selalu diukur dari kecepatan ataupun kemewahan melainkan dari sebuah keseimbangan.

Dengan demikian, melihat Indonesia dari “teras desa” bukan berarti selamanya kembali mundur, akan tetapi cara lain untuk terus maju tanpa takut kehilangan arah. Sebab dalam kesederhanaan, sering kali tersimpan jawaban atas kegelisahan yang tidak bisa diselesaikan oleh lingkungan bising metropolitan. (Arp/lz)

 Artikel ini ditulis oleh Senda, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi di ISI Surakarta.

Editor : Laila Zakiya
#Emha Ainun Nadjib #Indonesia Bagian Dari Desa Saya #buku #sinopsis #novel