SOLOBALAPAN.COM - Kita semua tahu rasanya belajar rumus rumit di sekolah, tapi pas lulus malah bingung cara bertahan hidup di dunia nyata.
W.S. Rendra pernah menyindir keras fenomena 'menara gading' yaitu sebuah kondisi di mana pendidikan cuma jadi ajang adu kecerdasan di atas kertas, tapi acuh dengan masalah sosial di sekitar.
Di era digital yang serba cepat ini, kurikulum kita seolah masih terjebak di dalam kelas yang nyaman, sementara realitas di luar bergerak jauh lebih kompleks.
Mahasiswa dituntut memahami teori, tetapi sering kali tidak diberi ruang cukup untuk benar benar bersentuhan dengan persoalan nyata di masyarakat.
Istilah 'menara gading' yang dikritik Rendra bukan sekadar metafora. Ia menggambarkan jarak antara dunia akademik dengan realitas sosial.
Dalam buku antologi Potret Pembangunan Dalam Puisi, Rendra kerap menekankan bahwa pengetahuan seharusnya tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hadir di tengah kehidupan.
“Apa artinya ilmu, jika tak menyentuh kehidupan?”
Kutipan yang berasal dari buku tersebut terasa relevan hingga hari ini. Banyak lulusan perguruan tinggi yang unggul secara akademik, namun merasa gagap ketika dihadapkan pada situasi nyata.
Menurut Badan Pusat Statistik, jumlah pengangguran lulusan Sarjana dan Diploma mencapai angka 1.050.764 orang, survei pada bulan agustus 2025.
Hal ini menunjukkan adanya celah antara apa yang dipelajari dan apa yang dibutuhkan.
Di sisi lain, masyarakat menghadapi persoalan yang semakin kompleks, mulai dari isu ekonomi, lingkungan, hingga ketimpangan sosial.
Dalam kondisi ini, peran pendidikan menjadi krusial, bukan hanya sebagai ruang belajar, tetapi juga sebagai ruang pembentukan kepekaan sosial.
Beberapa kampus mulai mencoba menjembatani hal tersebut melalui program pengabdian masyarakat atau proyek berbasis lapangan. Akan tetapi, dalam banyak kasus, hal ini masih dianggap sebagai pelengkap, bukan inti dari proses pendidikan itu sendiri.
Padahal, pengalaman langsung di lapangan sering kali memberikan pemahaman yang tidak bisa didapatkan hanya dari buku.
Interaksi dengan masyarakat, menghadapi masalah nyata, hingga mencari solusi secara kolektif menjadi proses penting dalam membentuk cara berpikir.
Jika ditarik ke konteks hari ini, kritik Rendra bisa dibaca sebagai dorongan untuk mengubah arah pendidikan. Bukan sekadar menghasilkan lulusan yang cerdas secara teori, tetapi juga mampu beradaptasi dan berkontribusi dalam kehidupan sosial.
Di tengah tuntutan zaman yang terus berubah, kurikulum yang terlalu kaku justru berisiko tertinggal. Dunia kerja dan masyarakat membutuhkan individu yang tidak hanya paham konsep, tetapi juga mampu membaca situasi dan bertindak.
Pada akhirnya, seperti yang dituliskan Rendra, pendidikan akan menemukan maknanya kembali ketika ia berani turun dari menara, dan mulai berjalan di jalanan yang sesungguhnya. (Arp/lz)
Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi di ISI Surakarta.
Editor : Laila Zakiya