SOLOBALAPAN.COM - Ramainya berita kekerasan seksual belakangan ini membuat banyak dari kita merasa cemas sekaligus bertanya-tanya tentang, bagaimana cara kita melindungi diri di lingkungan yang terlihat aman?
Jawabannya dimulai dari self-awareness. Tidak hanya lewat edukasi formal, pemahaman mendalam tentang pola predator seksual dan batasan tubuh juga bisa kita serap melalui literatur yang relevan.
Inilah lima rekomendasi buku yang wajib masuk daftar bacaanmu untuk memperluas perspektif dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekerasan seksual di sekitar kita.
Baca Juga: Ritual Menuju Panggung Besar: Tari dan Fleksibilitasnya
1. Thank You Salma — Erisca Febriani (Fiksi)
Novel ini menggambarkan bagaimana kekerasan seksual bisa terjadi di lingkungan yang tampak aman seperti kampus.
Melalui tokoh Salma, pembaca diajak memahami relasi kuasa, manipulasi pelaku, hingga tekanan sosial yang dialami penyintas.
Buku ini penting untuk membuka kesadaran bahwa kewaspadaan tidak hanya ditujukan pada orang asing, tetapi juga pada lingkungan terdekat.
2. #NamaBaikKampus — Sarjoko S. (Non-Fiksi)
Buku ini merupakan kumpulan laporan dan investigasi mengenai kasus kekerasan seksual di kampus.
Disusun dari perspektif jurnalis dan aktivis, buku ini memperlihatkan bagaimana sistem sering kali gagal melindungi korban.
Bacaan ini membantu pembaca memahami pola kasus secara nyata, mulai dari cara pelaku beroperasi hingga hambatan dalam proses pelaporan.
Baca Juga: Tidak Berhenti Menjadi Media Ekspresi, Tari Berfungsi Sebagai Identitas Daerah
3. Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam — Dian Purnomo (Fiksi)
Novel ini mengangkat isu kekerasan seksual dalam konteks budaya dan tradisi.
Cerita yang disampaikan memperlihatkan bagaimana korban sering kali terjebak dalam sistem yang tidak berpihak.
Buku ini memperluas perspektif bahwa kekerasan seksual tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan struktur sosial yang lebih besar.
4. Pengantar Memahami UU TPKS — Komnas Perempuan (Non-Fiksi)
Berbeda dari buku lainnya, bacaan ini memberikan pemahaman dasar tentang aspek hukum terkait kekerasan seksual.
Melalui buku ini, pembaca dapat mengetahui hak korban, bentuk bentuk kekerasan seksual yang diakui secara hukum, serta mekanisme perlindungan yang tersedia.
Baca Juga: Tribun Dibatasi, Persis Solo Tetap Dapat Dukungan, Pasoepati Siapkan Strategi Khusus
5. Mereka Bilang Saya Monyet! — Djenar Maesa Ayu (Fiksi/Cerpen)
Kumpulan cerpen ini menghadirkan berbagai sudut pandang tentang tubuh, trauma, dan relasi kuasa.
Gaya penceritaannya yang berani membuat isu yang sering dianggap tabu menjadi lebih terbuka untuk dibicarakan.
Buku ini membantu pembaca memahami pengalaman perempuan dari sisi yang lebih personal dan emosional.
Kelima buku ini menunjukkan bahwa memahami isu kekerasan seksual tidak cukup hanya dari satu sudut pandang.
Fiksi memberikan ruang empati, sementara non fiksi menawarkan data dan pemahaman struktural.
Di tengah meningkatnya kasus yang terungkap ke publik, self-awareness menjadi langkah awal yang penting. Mengenali pola, memahami batasan, serta berani bersuara adalah bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih aman.
Melalui bacaan, kesadaran itu bisa tumbuh. Dan dari kesadaran, langkah langkah kecil menuju perubahan dapat dimulai. (Arp/lz)
Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi di ISI Surakarta.
Editor : Laila ZakiyaSumber : Solo Balapan