SOLOBALAPAN.COM - Masih ingat dengan Phoebe Dynevor yang berperan sebagai Daphne, seorang gadis ningrat yang menjadi berlian pilihan Queen Charlotte pada serial Bridgerton?
Apa jadinya jika ia kembali beraksi dihadapan kamera dengan aura dan latar belakang yang berbeda?
Phoebe kembali hadir ke perfilman internasional sebagai Lisa, wanita hamil yang berjuang antara hidup dan mati menyelamatkan dirinya dan nyawa yang ada dalam rahimnya.
Pasalnya, kota yang ia pijak terdampak badai dahsyat yang menghancurkan kota dengan brutal, menyebabkan tanggul kota pecah dan membanjiri wilayah perumahan.
Baca Juga: Menikmati Waduk Gajah Mungkur Wonogiri dari Ketinggian, Hidden View Cantik di Desa Sendang
Film yang telah rilis sejak 10 April 2026 di netflix ini menjadi film bernafaskan survival thriller dengan membawa teror hiu banteng ke kota pesisir Annieville, Carollina Selatan.
Pada posternya saja, warganet dapat menebak film ini akan bercerita tentang apa, berjuang melawan apa dan siapa aktris pembawa pesan dari film ini.
Terlebih lagi setelah trailernya sudah tersebar di seluruh media sosial, yang menayangkan premis—premis dalam film.
Pada trailer yang berdurasi kurang lebih 2 menit 30 detik, awalnya mengisahkan keceriaan warga sekitar yang bergembira bermain air hujan.
Masalah mulai menguat ketika hujan menjadi badai yang tak kunjung reda sehingga mengakibatkan tanggul di lepas pantai jebol karena dahsyatnya gelombang air laut yang mengamuk.
Air laut yang membabi buta menerjang apa saja yang menghadangnya, menyebabkan Lisa tersangkut didalam mobilnya, begitu juga warga sekitar yang terisolasi dan mengalami kerugian atas fasilitas dan properti yang mereka miliki, namun tetap ada satu hal yang lebih penting dari harta benda mereka, nyawa.
Situasi bertambah buruk saat sebuah truk pengangkut daging, mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan muatannya berhamburan terlepas ke perairan, dan tentu saja kecelakaan ini menjadi titik awal berkumpulnya hiu—hiu lautan untuk menguasai tempat tersebut.
Sehingga masalah masyarakat pesisir Annievelle, bukanlah sekedar badai ganas dengan air lautnya, melainkan salah satu spesies predator ganas yang menjadi penghuni lautan, hiu banteng.
Perjuangan Lisa dan orang sekitar yang berusaha menyelamatkan nyawa mereka mati—matian, selalu terhalang dan tidak berjalan mulus.
Tommy Wirkola sebagai penulis sekaligus sutradara Thrash, menyiratkan pesan dan pelajaran dalam menghadapi bencana serta kecerdikan yang sangat dibutuhkan melebihi ego dalam memilih tindakan.
Film ini tidak hanya mengandung perjuangan hidup, melainkan juga alur yang memacu adrenalin penonton, mengajarkan empati dan simpati secara bersamaan, serts erat kaitannya dengan keputusan yang perlu diambil dalam situasi genting.
Baca Juga: Pesan Terakhir yang Kini Jadi Kenangan: Kepulangan Korban Helikopter Disambut Duka di Klaten
Kondisi Lisa sebagai seorang wanita bahkan seorang Ibu, menjadi fokus dari perwujudan usaha sebagai seorang manusia dan seorang ibu dalam menghadapi situasi yang mengancam dirinya dan anaknya.
Perlawanan epik yang membuktikan bahwa orangtua adalah garda terdepan bagi anak—anaknya, apalagi seorang ibu, dibawakan Phoebe dengan tenaga yang tiada habis dan menularkan kecemasan kepada para penonton.
Para warga sipil yang terjebak dirumah mereka sebagai benteng pertahanan atas badai dan serangan hiu yang lapar, mencoba berbagai cara untuk dapat mengevakuasi diri dan mendapatkan bantuan.
Namun berbagai halangan yang datang memaksa mereka untuk berfikir lebih cepat dan berjuang lebih keras.
Dengan peralatan seadanya, para penduduk membalikkan keadaan antara manusia dan hiu yang mulanya antara mangsa dan predator, berubah menjadi predator melawan predator.
Kepiawaian penulis dan sutradara yang satu kepala ini, berhasil membangun alur dramatik menuju penyelesaian dengan perlahan namun pasti.
Baca Juga: Sepeda Motor Mio Terbakar di Depan Kantor Bupati Sukoharjo, Diduga Akibat Korsleting
Kualitas audio dan editing yang terbilang cukup baik, menambah fokus penonton pada setiap titik mencekam di setiap adegan film.
Penempatan tokoh di berbagai ruangan sempit dan penuh air, penerangan yang minim, mendukung ketegangan penonton melalui visual.
Adam McKay selaku produser mengungkap bahwa ide cerita ini terinspirasi dari fenomena nyata yang mendatangkan banjir ekstrem ke wilayah permukiman dan perubahan lingkungan sekaligus.
Dalam kondisi tertentu, kejadian tak terduga memang bisa terjadi secara mendadak. Sehingga ia menegaskan mengenai premis film ini yang masuk akal. (riz/lz)
Editor : Laila Zakiya