Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

GEMATI POL: Saat Warga Sragen Wetan Tak Lagi Takut Harga Cabai Melejit

Ahmad Khairudin • Jumat, 17 April 2026 | 19:02 WIB
KETAHANAN PANGAN : Program GEMATI POL di Sragen Wetan berhasil ubah pekarangan jadi sumber pangan dan ekonomi, warga tak lagi khawatir harga cabai melonjak. (AHMAD KHAIRUDIN/SOLOBALAPAN.COM)
KETAHANAN PANGAN : Program GEMATI POL di Sragen Wetan berhasil ubah pekarangan jadi sumber pangan dan ekonomi, warga tak lagi khawatir harga cabai melonjak. (AHMAD KHAIRUDIN/SOLOBALAPAN.COM)

 

SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Lonjakan harga cabai yang kerap bikin dapur “panas” kini tak lagi jadi ancaman bagi warga Kelurahan Sragen Wetan.

Lewat gerakan bertajuk GEMATI POL (Gemar Menanam dan Investasi Potensi Lokal), warga justru membalik keadaan: dari ketergantungan pasar menjadi mandiri dari halaman rumah sendiri.

Program ini lahir dari persoalan klasik—lahan pekarangan yang terbengkalai dan tingginya ketergantungan terhadap pasokan pasar. Namun di tangan warga, persoalan itu berubah menjadi peluang.

Baca Juga: Dari Sampah Jadi Karya! Pelajar SMP Solo Adu Kreativitas Daur Ulang Plastik

RT 39 Widoro menjadi garda depan sekaligus pilot project, bahkan dipercaya mewakili kelurahan dalam Lomba Inovasi 2025–2026.

Lurah Sragen Wetan, Prima Adhi Surya, menegaskan bahwa GEMATI POL bukan sekadar tren menanam, melainkan strategi membangun ketahanan ekonomi dari level paling dasar.

“Kami dorong setiap rumah menanam minimal lima bibit cabai. Hasilnya langsung terasa—pengeluaran dapur berkurang, bahkan bisa jadi sumber penghasilan tambahan,” ujarnya.

Gerakan ini berjalan dengan pola “keroyokan”. Di bawah koordinasi Ketua RT 39, Guntur Rilo Subroto, warga bergerak bersama: dari penyemaian, perawatan, hingga panen.

Peran kelompok ibu-ibu PKK dan Dasawisma menjadi motor penggerak di lapangan. Mereka tak hanya memastikan tanaman tumbuh, tetapi juga menjaga konsistensi warga hingga masa panen.

Baca Juga: Dari Sampah Jadi Karya! Pelajar SMP Solo Adu Kreativitas Daur Ulang Plastik

“Kami tidak sekadar membagikan bibit. Semua didampingi sampai berhasil,” tegas Prima.

Hasilnya mulai terlihat nyata. Gang-gang di RT 39 kini dipenuhi tanaman cabai—ditanam di tanah, pot, hingga polybag. Ruang sempit yang dulu tak terpakai kini berubah menjadi “lumbung hidup”.

Dampaknya tak hanya ekonomi. Lingkungan menjadi lebih hijau, interaksi sosial meningkat, dan budaya gotong royong kembali terasa.

“Sekarang kalau harga cabai naik, tidak panik lagi. Tinggal petik di depan rumah. Kalau lebih, bisa dijual,” ujar salah satu warga.

Fenomena ini menjadi contoh konkret bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari skala mikro—bahkan dari teras rumah.

Baca Juga: Berburu “Dava” Baru! Askab PSSI Sragen Gas Piala U-11, Siapkan Panggung Calon Bintang

Dengan keberhasilan awal ini, Sragen Wetan optimistis GEMATI POL bisa berkembang lebih luas dan menjadi budaya baru masyarakat.

Di tengah fluktuasi harga bahan pokok, satu hal mulai terbukti: solusi tak selalu datang dari pasar—kadang justru tumbuh dari halaman rumah sendiri. (din/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#lonjakan harga cabai #GEMATI POL #lahan pekarangan #sragen #ketahanan pangan