SOLOBALAPAN.COM - Dalam beberapa tahun terakhir, kebiasaan mencatat atau journaling kembali menjadi tren di kalangan anak muda.
Mulai dari mencatat aktivitas harian, target hidup, hingga refleksi diri, praktik ini dianggap sebagai bagian dari gaya hidup produktif dan sehat secara mental.
Pada platform seperti TikTok dan Instagram, konten tentang journaling bahkan berkembang menjadi inspirasi visual yang menarik. Buku catatan tidak lagi sekadar alat tulis, tetapi juga menjadi ruang untuk mengatur hidup dan memahami diri.
Akan tetapi di balik manfaat tersebut, praktik mencatat juga memiliki sisi lain yang jarang dibahas.
Catatan, jika digunakan dalam konteks tertentu, dapat menjadi alat untuk mengontrol, bahkan menjatuhkan seseorang.
Gambaran seperti ini dapat ditemukan dalam novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer.
Melalui tokoh Pangemanan sebagai sosok yang sangat teliti dalam mencatat. Ia mengarsipkan berbagai informasi tentang individu dan kelompok yang dianggap berpotensi mengganggu stabilitas kolonial.
Dengan catatan catatan tersebut, Pangemanan tidak hanya memahami lawannya, tetapi juga mampu memetakan langkah mereka. Informasi yang terkumpul menjadi dasar dalam mengambil keputusan strategis.
“Dengan catatan, aku mengenal mereka lebih dari mereka mengenal diri mereka sendiri.”
Kutipan ini menunjukkan bahwa data bukan sekadar kumpulan informasi, melainkan sumber kekuatan. Siapa yang memiliki data, memiliki kendali lebih besar dalam membaca situasi.
Jika ditarik ke masa kini, praktik serupa hadir dalam bentuk yang lebih modern yaitu menggunakan perangkat digital.
Data pribadi yang tersimpan di berbagai platform digital dapat digunakan untuk memahami perilaku pengguna, mulai dari kebiasaan, preferensi, hingga pola pikir.
Menurut laporan Statista, jumlah data yang dihasilkan oleh pengguna internet terus meningkat setiap tahunnya.
Dari aktivitas sederhana seperti menyukai konten, hingga pencarian pribadi, semuanya menjadi bagian dari arsip digital yang akan selamanya tersimpan.
Di satu sisi, hal ini memudahkan individu dalam mengelola hidup. Catatan pribadi membantu meningkatkan kesadaran diri, produktivitas, dan kesehatan mental.
Namun di sisi lain, data yang sama juga dapat digunakan oleh pihak lain untuk kepentingan tertentu.
Hal ini menunjukkan bahwa mencatat bukan aktivitas yang netral. Ia memiliki dua sisi, sebagai alat untuk memahami diri, sekaligus berpotensi sebagai alat kontrol.
Pangemanan dalam Rumah Kaca menjadi gambaran ekstrem dari bagaimana pengarsipan bisa digunakan sebagai “senjata”. Dengan ketelitian dan konsistensi, ia mampu mengubah informasi menjadi sesuatu yang dapat dikendalikan sesuka hati.
Di era digital, bentuknya mungkin berbeda, tetapi prinsipnya tetap sama. Data yang dikumpulkan, baik secara sadar maupun tidak, dapat membentuk bagaimana seseorang dilihat, dipahami, bahkan diperlakukan.
Dengan demikian, tren journaling dan pengarsipan pribadi tidak hanya perlu dilihat dari sisi produktivitas, tetapi juga dari sisi kesadaran akan dampaknya.
Sebab dalam dunia yang semakin terdokumentasi, apa yang dicatat bisa menjadi sebuah kekuatan, atau justru menjadi boomerang terhadap diri sendiri. (Arp/lz)
Editor : Laila Zakiya