SOLOBALAPAN.COM - Fenomena penggunaan campur bahasa atau code-switching semakin sering ditemui, terutama di kalangan anak muda dan konten kreator.
Tidak sedikit yang merasa lebih nyaman mengekspresikan diri, bahkan “curhat”, menggunakan bahasa Inggris dibanding bahasa Indonesia.
Pada beberapa media sosial seperti Tiktok dan Instagram, tren ini terlihat jelas.
Mulai dari unggahan konten harian maupun podcast, para konten kreator kerap menyelipkan bahasa Inggris dalam dialognya meski audiens sebagian besar berasal dari Indonesia.
Bagi sebagian orang, penggunaan bahasa Inggris dianggap lebih ekspresif, modern, dan memiliki jangkauan yang lebih luas.
Akan tetapi di sisi lain, hal ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana bahasa akan berkaitan dengan identitas.
Jika ditarik ke belakang, fenomena serupa pernah digambarkan dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.
Tokoh Minke, seorang pribumi terdidik dalam sistem kolonial, lebih terbiasa menggunakan bahasa Belanda dalam menulis dan berpikir.
Dalam cerita tersebut, Minke sempat enggan menggunakan bahasa Melayu karena menganggap bahasa Belanda lebih tinggi secara intelektual.
Sikap ini kemudian mendapat teguran dari Nyai Ontosoroh, salah satu tokoh yang juga memiliki peran penting dalam novel tersebut.
“Kalau kau tidak menulis dalam bahasamu sendiri, kau akan kehilangan bangsamu.”
Teguran ini menjadi salah satu momen penting yang menggambarkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga bagian dari identitas dan kesadaran diri.
Peristiwa yang dialami Minke pada akhir abad ke-19 memiliki kemiripan dengan kondisi saat ini.
Meski konteksnya berbeda, ada kecenderungan untuk mengasosiasikan bahasa asing dengan status, intelektualitas, atau bahkan kepercayaan diri.
Baca Juga: Pantai Gading Purba Wonogiri, Sensasi “Pantai” Unik di Tengah Waduk
Statista menunjukkan data bahwa penggunaan bahasa Inggris di platform digital global semakin meningkat, termasuk di negara - negara non penutur asli. Hal ini turut memengaruhi cara generasi muda berkomunikasi dan mengekspresikan diri.
Akan tetapi, di balik kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran akan terjadinya jarak terhadap bahasa sendiri.
Ketika bahasa asing menjadi pilihan utama, bahasa ibu berpotensi hanya digunakan dalam konteks tertentu dan bahkan bisa kehilangan ruang dalam ekspresi personal.
Dalam banyak kasus, penggunaan dua bahasa atau lebih justru menunjukkan kemampuan adaptasi dan keterbukaan terhadap dunia global.
Meskipun begitu, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana hal tersebut memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Melalui kisah Minke, Bumi Manusia menghadirkan refleksi yang masih relevan hingga hari ini.
Pergulatan antara bahasa, identitas, dan cara berpikir ternyata bukan hal baru, melainkan bagian dari proses panjang yang akan terus berulang.
Di tengah tren code-switching yang semakin umum, pertanyaan yang bisa diajukan menjadi sederhana, apakah penggunaan bahasa Inggris semata soal kenyamanan, atau ada kecenderungan untuk merasa lebih “percaya diri” ketika tidak menggunakan bahasa sendiri.
Dengan demikian, Peristiwa ini tidak hanya tentang pilihan bahasa, melainkan tentang bagaimana generasi hari ini memaknai identitasnya di tengah pengaruh global yang semakin kuat. (rip/lz)
Editor : Laila Zakiya