SOLOBALAPAN.COM - Pakaian yang dikenakan seseorang hari ini sering dianggap sebagai bagian dari gaya atau ekspresi diri.
Namun dalam konteks sejarah, pakaian bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih serius, bahkan berisiko. Hal ini tergambar jelas dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.
Tokoh utama dalam novel tersebut, Minke, digambarkan sebagai pribumi yang mendapatkan pendidikan ala Eropa.
Salah satu simbol paling terlihat dari perubahan itu adalah cara ia berpakaian. Jas, sepatu, dan gaya berpakaian Barat menjadi bagian dari kesehariannya.
Di masa Hindia Belanda pada akhir abad ke-19, pilihan tersebut bukan hal yang sederhana.
Pakaian tidak hanya menunjukkan selera, tetapi juga menjadi penanda status sosial dan posisi seseorang dalam struktur kolonial. Masyarakat dibagi secara tegas antara Eropa, Timur Asing, dan pribumi, termasuk dalam hal cara berpakaian.
Dalam salah satu bagian cerita, Minke menyadari bahwa penampilannya sering kali mengundang pandangan berbeda, baik dari kalangan pribumi maupun Eropa. Ia berada di posisi yang tidak sepenuhnya diterima oleh keduanya.
Baca Juga: Kethoprak Go International: Strategi Gedung Wayang Orang Sriwedari Pikat Wisatawan Mancanegara
“Aku seorang pribumi yang berpakaian seperti orang Eropa, tapi tetap dianggap pribumi.”
Kutipan yang diambil dari buku tersebut memperlihatkan bahwa pakaian tidak serta merta mengubah identitas sosial seseorang. Meski mengenakan jas dan sepatu, Minke tetap dipandang berdasarkan latar belakangnya sebagai pribumi.
Di sisi lain, pilihannya untuk berpakaian seperti orang Eropa juga bisa dibaca sebagai bentuk perlawanan simbolik.
Dalam situasi di mana akses terhadap pendidikan dan gaya hidup Barat dibatasi, apa yang dikenakan Minke menjadi pernyataan tentang posisi dirinya.
Akan tetapi pilihan ini juga membawa konsekuensi. Ia tidak hanya berhadapan dengan pandangan diskriminatif dari pihak kolonial, tetapi juga dengan jarak sosial dari lingkungan pribumi. Penampilan yang berbeda bisa memicu kecurigaan, bahkan penolakan.
Dalam konteks hari ini, fenomena tersebut bisa dilihat sebagai bentuk awal dari apa yang kini dikenal sebagai fashion identity.
Baca Juga: Italia ke Piala Dunia 2026 Lewat Pintu Belakang? Intip Skenario Kontroversial Geser Posisi Iran
Pakaian menjadi cara untuk menyampaikan siapa diri seseorang, apa yang diyakini, dan di mana ia berdiri.
Meski demikian, pengalaman Minke menunjukkan bahwa ekspresi melalui pakaian tidak selalu bebas dari risiko.
Dalam situasi tertentu, apa yang dikenakan justru bisa menjadi titik konflik antara identitas pribadi dan konstruksi sosial yang ada.
Melalui Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer tidak hanya menceritakan kisah sejarah, tetapi juga menghadirkan refleksi tentang bagaimana hal hal yang terlihat sederhana seperti pakaian, dapat memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Dengan cara ini, keputusan Minke mengenakan jas dan sepatu bukan sekadar soal gaya. Pada tahun 1898, itu adalah pilihan yang membawa konsekuensi sosial, sekaligus menjadi salah satu bentuk ekspresi diri yang paling berani pada masanya. (Arp/lz)
Editor : Laila Zakiya