SOLOBALAPAN, SURAKARTA - Nama Mochtar Lubis kembali mencuat di ruang-ruang diskusi mahasiswa dan media sosial. Melalui bukunya yang fenomenal, Manusia Indonesia, jurnalis senior ini membedah anatomi karakter masyarakat kita dengan sangat tajam.
Meski pidato kebudayaan ini disampaikan puluhan tahun silam, banyak yang merasa potret tersebut masih menjadi cermin retak bagi realitas hari ini.
Mochtar Lubis memotret kebiasaan hingga pola pikir masyarakat apa adanya. Berikut adalah enam sifat manusia Indonesia menurut pandangannya yang sering kali mengundang perdebatan sekaligus refleksi mendalam:
1. Hipokrit atau Munafik
Mochtar menilai adanya kesenjangan antara ucapan dan tindakan. Citra sering kali dianggap lebih penting daripada kejujuran.
Fenomena "asal bapak senang" atau menampilkan wajah manis di depan namun berbeda di belakang menjadi salah satu poin yang ia soroti dengan pedas.
Baca Juga: 5 Buku Wajib Mahasiswa Aktif Organisasi, Bekal Jadi Aktivis Kritis dan Berpengaruh di Kampus
2. Enggan Bertanggung Jawab
Kecenderungan untuk mencari kambing hitam atau menghindari konsekuensi dari sebuah kesalahan merupakan ciri kedua.
Kalimat "bukan saya" atau mengalihkan kesalahan kepada pihak lain membuat banyak persoalan di negeri ini berulang tanpa pernah benar-benar tuntas di akarnya.
3. Berjiwa Feodal
Meskipun kita sudah lama merdeka, sikap menghormati jabatan atau status sosial secara berlebihan dinilai masih sangat kental. Hal ini menciptakan sekat dan ketidaksetaraan dalam hubungan sosial.
Dampaknya, kritik yang sehat sering kali tertahan oleh rasa sungkan atau takut terhadap atasan.
4. Percaya pada Takhayul
Mochtar menyoroti sisi masyarakat yang masih mempercayai hal-hal tidak rasional.
Jika ditarik ke era digital, hal ini relevan dengan mudahnya masyarakat memercayai hoaks atau narasi mistis tanpa melalui proses berpikir kritis terlebih dahulu.
5. Artistik (Jiwa Seni yang Kuat)
Di balik kritik kerasnya, Mochtar mengakui keunggulan manusia Indonesia dalam hal kreativitas.
Kita dikenal sebagai bangsa yang ekspresif. Hal ini terbukti dari kekayaan seni pertunjukan, seni rupa, hingga karya media yang terus berkembang dan diakui dunia.
6. Lemah Karakter
Sifat terakhir adalah watak yang mudah goyah. Manusia Indonesia cenderung mudah terpengaruh oleh arus mayoritas atau tekanan lingkungan.
Pendirian yang mudah berubah ini dianggap sebagai hambatan dalam membangun integritas diri yang kokoh.
Antara Kritik Pedas dan Refleksi Jujur
Tulisan Mochtar Lubis ini memang tidak pernah sepi dari pro dan kontra. Ada yang menganggapnya terlalu pesimis dan "menyamaratakan" seluruh rakyat.
Namun, bagi banyak aktivis dan mahasiswa, poin-poin ini menjadi bahan bakar untuk memahami diri sendiri dan memperbaiki mentalitas organisasi.
Memahami karakter bukan berarti pasrah pada label, melainkan langkah awal untuk melakukan transformasi budaya menuju arah yang lebih baik.
(did/arif)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo