Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Dari Nongkrong ke Literasi, Coffee Shop Rasa Perpustakaan Makin Menjamur di Solo

Laila Zakiya • Senin, 13 April 2026 | 11:09 WIB

Coffeshop dengan vibes ala perpustakaan. (Pexels/Haley Black)
Coffeshop dengan vibes ala perpustakaan. (Pexels/Haley Black)

 

SOLOBALAPAN.COM - Suasana coffee shop kini tidak lagi sekadar tentang aroma kopi dan obrolan santai.

Dalam beberapa waktu terakhir, muncul tren baru di kalangan anak muda, yaitu menikmati waktu di coffee shop yang juga menyediakan rak buku dan suasana tenang layaknya perpustakaan. 

Fenomena ini mulai terlihat di berbagai kota, termasuk Solo, di mana sejumlah tempat nongkrong menghadirkan konsep ruang baca yang menyatu dengan kafe.

Pengunjung tidak hanya datang untuk minum kopi, tetapi juga membawa atau membaca buku yang tersedia di lokasi.

Baca Juga: Blak-blakan Jordy Tutuarima Soal Persis Solo: Gaji Tak Dibayar Berbulan-bulan, Kini Temukan Kedamaian di Belanda

Perpaduan ini menciptakan pengalaman yang berbeda dibandingkan coffee shop pada umumnya. 

Tren tersebut sejalan dengan perubahan gaya hidup generasi muda yang menginginkan ruang yang nyaman sekaligus produktif.

Coffee shop dengan nuansa literasi dianggap mampu memenuhi dua kebutuhan sekaligus, yaitu tempat bersosialisasi dan ruang untuk fokus.

Tidak sedikit pengunjung yang menghabiskan waktu berjam jam untuk membaca, mengerjakan tugas, atau sekadar menikmati suasana. 

Seperti pada Cafe Bukuku Lawas yang berada di Ngasinan, Jebres, Solo yang selalu ramai oleh generasi muda.

Baca Juga: Lebih Tajam dari Striker Timnas, Apakah Eksel Runtukahu Layak Masuk Skuad John Herdman untuk Piala AFF 2026?

Hal tersebut menunjukkan bahwa minat terhadap aktivitas membaca di kalangan generasi muda tetap ada, meskipun cara dan tempatnya mengalami perubahan.

Aktivitas membaca kini tidak lagi terbatas pada ruang formal seperti perpustakaan, tetapi juga berpindah ke ruang publik yang lebih fleksibel. 

Menurut Elza Veliana dalam risetnya, menuliskan bahwa Starbucks memelopori konsep coffee shop modern sebagai "Third Place", sebuah ruang sosial yang nyaman di luar rumah dan kantor.

Konsep ini kemudian berkembang dengan menghadirkan elemen tambahan, termasuk buku dan ruang baca, untuk menarik pengunjung yang ingin lebih dari sekadar nongkrong. 

Perubahan ini juga dipengaruhi oleh kejenuhan terhadap aktivitas digital.

Setelah berjam jam berinteraksi dengan layar, sebagian anak muda mulai mencari pengalaman yang lebih tenang dan nyata.

Baca Juga: Update Biaya Haji Indonesia 2026: Rincian Lengkap Bipih Reguler, Komponen Penerbangan, hingga Living Cost

Membaca buku di coffee shop menjadi salah satu cara untuk keluar sejenak dari rutinitas tersebut. 

Meski demikian, tren ini tidak sepenuhnya menggantikan fungsi perpustakaan.

Justru, keberadaan coffee shop bernuansa buku menunjukkan bahwa minat terhadap literasi masih bertahan, hanya saja hadir dalam bentuk yang lebih santai dan kontekstual dengan gaya hidup saat ini. 

Dengan semakin banyaknya tempat yang mengusung konsep serupa, coffee shop rasa perpustakaan diperkirakan akan terus berkembang.

Bagi anak muda, ruang seperti ini bukan hanya tempat untuk menghabiskan waktu, tetapi juga menjadi bagian dari cara baru dalam menikmati buku di tengah ritme kehidupan yang cepat. (Arp/lz)

Editor : Laila Zakiya
#tren #anak muda #perpustakaan #coffee shop #literasi