SOLOBALAPAN.COM – Abadi Nan Jaya, film zombie terbaru karya sutradara Kimo Stamboel, menjadi perbincangan usai seorang YouTuber dari kanal Ngelantur Indonesia melayangkan kritik tajam terhadap film tersebut.
Produksi Netflix yang tayang sejak 23 Oktober 2025 ini disebut memiliki kualitas teknis yang mengesankan, namun dianggap kurang kuat dalam pengembangan cerita dan eksplorasi budaya lokal.
Film Zombie Ambisius dengan Deretan Nama Besar
Abadi Nan Jaya disutradarai, diproduseri, dan ditulis oleh Kimo Stamboel, dengan naskah garapan Agasyah Karim dan Khalid Kashogi. Film ini dibintangi sejumlah aktor papan atas Indonesia, di antaranya:
Baca Juga: PSSI Masih Bungkam, Media Asing Justru Bocorkan Tiga dari Lima Kandidat Pelatih Timnas Indonesia
-
Mikha Tambayong sebagai Kanes
-
Eva Celia sebagai Karina
-
Donny Damara sebagai Sadimin
-
Dimas Anggara sebagai Rudi
-
Marthino Lio sebagai Bambang
Sebagai proyek horor berskala besar, film ini memadukan tema wabah zombie dengan unsur lokal Indonesia, salah satunya konsep jamu sebagai sumber epidemi.
Konsep Jamu Menarik, tapi Dinilai Kurang Digali
Dalam ulasannya, YouTuber Ngelantur Indonesia menyebut konsep jamu sebagai pemicu wabah zombie sebenarnya sangat potensial. Namun film dianggap tidak mendalami aspek tersebut, baik secara naratif maupun budaya.
Ia menilai film tidak menggambarkan proses pembuatan jamu, filosofi di baliknya, atau latar budaya yang melatarbelakangi penggunaannya. Akibatnya, elemen jamu terasa hanya menjadi gimmick, bukan bagian penting dari struktur cerita.
Teknis Film Mendapat Pujian
Di sisi lain, reviewer mengapresiasi keberanian produksi serta kualitas teknis film. Beberapa aspek yang dipuji meliputi:
-
Riasan zombie kreatif terinspirasi dari tanaman kantong semar
-
Koreografi gerakan zombie yang rapi
-
Sinematografi dan visual yang mewah
-
Penggunaan practical effect yang efektif
Untuk standar film horor Indonesia, kualitas produksi Abadi Nan Jaya dianggap berada pada level sangat tinggi.
Cerita Kuat di Awal, Melemah di Tengah
Baca Juga: 9 Pasal Kontroversial RKUHAP Siap Disahkan: Ancaman untuk OTT, KPK Terancam Lumpuh!
Babak pertama film dinilai sebagai bagian paling solid, memadukan drama keluarga dan penyebaran wabah secara paralel. Namun memasuki pertengahan, cerita disebut melemah karena:
-
Fokus berlebihan pada aksi tanpa arah jelas
-
Minim pengembangan karakter
-
Kurangnya dinamika antarmanusia
-
Tidak adanya antagonis manusia sebagai pemicu konflik moral
Ngelantur Indonesia membandingkan film ini dengan Train to Busan, The Walking Dead, dan Kingdom, yang sukses karena menjadikan konflik manusia sebagai pusat cerita. Abadi Nan Jaya dinilai kehilangan peluang untuk menguatkan aspek tersebut.
Visual Terasa Terlalu Bersih
Reviewer juga mengkritik tampilan visual yang dianggap “terlalu bersih” untuk genre zombie. Color grading yang terang membuat atmosfer mencekam kurang terasa, terutama pada adegan siang hari.
Tim Kreatif Dinilai Kurang Sinkron
Dalam sesi tanya jawab usai penayangan awal, reviewer mencatat ketidaksinkronan antara jawaban sutradara, penulis, dan tim kreatif mengenai motivasi karakter dan konsep dasar wabah.
Hal ini memperkuat pandangannya bahwa fondasi cerita belum dibangun secara matang sejak tahap awal produksi.
Skor Akhir: 6.8/10
Meski menyampaikan banyak catatan, YouTuber Ngelantur Indonesia tetap memberikan skor 6.8/10, yang dianggap cukup tinggi untuk standar film horor Indonesia.
Ia menilai Abadi Nan Jaya sebagai film berambisi besar dengan eksekusi teknis yang kuat, namun membutuhkan pendalaman cerita, filosofi, karakter, dan eksplorasi budaya yang lebih menyeluruh.
“Eksekusinya bagus, namun fondasi ceritanya terlalu lemah. Dengan potensi sebesar ini, filmnya bisa jauh lebih baik,” tutupnya. (an)
*Zhahirana Jasmine