SOLOBALAPAN.COM - Film Jembatan Shiratal Mustaqim kini menjadi pusat perhatian publik, bukan hanya karena efek horor dan spiritualnya yang mencekam, tetapi juga karena kontroversi yang menyelimuti jelang perilisan resminya pada 9 Oktober 2025.
Kabar berhembus bahwa film ini terancam dihentikan penayangannya setelah dianggap menyinggung sebagian pihak.
Namun di balik kabar tersebut, ada pesan kuat tentang realitas sosial dan moral bangsa yang coba disuarakan lewat medium sinema.
Menggugat Nurani Lewat Tema Korupsi dan Akhirat
Film Jembatan Shiratal Mustaqim sejak awal pengumumannya telah menarik perhatian publik karena premisnya yang tidak biasa.
Di tengah dominasi horor dengan tema hantu dan ritual gaib, film ini mencoba menerobos dengan mengangkat isu pertanggungjawaban seorang koruptor di alam akhirat.
Dalam film ini, horor tak lagi tentang setan atau arwah penasaran, melainkan tentang rasa bersalah dan keadilan yang tak bisa dihindari.
Cerita berpusat pada Arya, seorang pemuda yang dihantui arwah ayahnya, Malik, yang meninggal secara misterius.
Film horor religi Jembatan Shiratal Mustaqim mengangkat isu korupsi dan balasannya di akhirat.
Film ini menghadirkan visualisasi menakutkan tentang jembatan Shiratal Mustaqim, neraka, dan Padang Mahsyar.
Kisah berpusat pada Arya yang menyelidiki kematian ayahnya yang mencurigakan setelah dihantui oleh penglihatan arwah sang ayah.
Penyelidikan itu membawa Arya pada rahasia kelam: skandal dana bantuan bencana yang menyeret nama-nama berpengaruh, termasuk orang-orang terdekatnya sendiri.
Dalam perjalanan spiritual yang penuh teror dan rasa bersalah, film ini mengajak penonton bertanya — bisakah dosa besar disembunyikan dari pengadilan akhirat?
Dibintangi Aktor Ternama, Sarat Pesan Moral
Film garapan Bounty Umbara ini diperkuat jajaran bintang papan atas seperti Agus Kuncoro, Imelda Therinne, Mike Lucock, dan Raihan Khan.
Kehadiran mereka tak hanya menambah kekuatan akting, tetapi juga mempertegas kedalaman emosional cerita yang ditulis dengan pendekatan moral dan spiritual.
Visual film menghadirkan Padang Mahsyar, neraka, dan jembatan Shiratal Mustaqim dengan efek sinematik megah.
Namun di balik kengerian itu, terdapat refleksi tajam tentang korupsi dan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan.
Di Balik Kontroversi dan Keberanian Pesan
Isu penghentian penayangan film ini sempat memicu kekhawatiran. Namun sang produser, Dheeraj Kalwani, memilih bersikap tegas.
“Kebenaran tidak bisa dibungkam. Penonton berhak melihat kisah ini apa adanya,” ujar Dheeraj Kalwani kepada media, Minggu, 5 Oktober 2025. (lz)
Editor : Laila Zakiya