SOLOBALAPAN.COM – Terdapat sebuah novel menarik karya Sundari Mardjuki yang berjudul ‘Genduk.'
Buku yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2016 oleh Gramedia Pustaka Utama ini menyajikan cerita sederhana mengenai seorang anak desa, tetapi dipenuhi dengan pesan tentang pencarian identitas, ketahanan perempuan, hingga gambaran pahit kehidupan petani tembakau di kaki Gunung Sindoro, Temanggung, dengan latar waktu tahun 1970-an.
Kisah Genduk dan Penantian Seorang Anak
Anisa Nooraini, tokoh utama dalam novel ‘Genduk,' kerap dipanggil Genduk.
Ia digambarkan sebagai seorang gadis berusia 11 tahun yang tumbuh tanpa pernah mengetahui keberadaan ayahnya.
Genduk tinggal bersama ibunya yang kerap dipanggilnya Yung, di Desa Ringinsari.
Setiap hari ia diselimuti perasaan ingin tahu sekaligus kerinduan.
Pencarian sosok ayah ini menjadi inti dari cerita, mencerminkan perjalanan spiritual seorang anak desa menuju kedewasaan.
Potret Kehidupan Petani Tembakau
Lebih dari sekadar cerita keluarga, ‘Genduk’ juga membawa pembaca menyelami kehidupan sehari-hari para petani tembakau di desa.
Sundari Mardjuki menggambarkan perjuangan mereka menghadapi kerasnya alam, harga yang sering dieksploitasi tengkulak, hingga ketidakpastian kehidupan.
Semua itu ditulis dengan rinci namun sederhana, sehingga pembaca dapat merasakan pahitnya kehidupan desa pada era 70-an.
Kekuatan Perempuan dalam Novel
Salah satu aspek yang mencolok dari ‘Genduk’ adalah representasi kekuatan perempuan.
Yung harus berjuang keras untuk membesarkan anaknya sendirian.
Sementara itu, Genduk berusaha menghadapi kesendirian dan keterbatasan dengan semangat yang kuat.
Dari keduanya, pembaca diajak memahami bagaimana perempuan desa dapat bertahan, bahkan menemukan keberanian untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Apresiasi dan Pesan yang Membekas
Sejak diluncurkan pada tahun 2016, ‘Genduk’ telah banyak diteliti di berbagai perguruan tinggi, mencakup permasalahan gender, kritik sosial, dan antropologi sastra.
Novel ini dianggap tidak hanya menyajikan kisah pribadi, tetapi juga semacam memoar sosial yang mendokumentasikan kehidupan desa pada tahun 1970-an.
Dengan bahasa yang mudah dipahami dan sentuhan lokal yang kuat, ‘Genduk’ menyampaikan pesan penting mengenai makna keluarga, identitas, dan perjuangan, serta mengingatkan pembaca akan suara-suara kecil dari desa yang sering diabaikan. (lz)
Editor : Laila Zakiya