Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Dihujat Sampai Jadi Meme Viral di X, Kenapa Film Animasi Merah Putih: One For All Jadi Sorotan?

Laila Zakiya • Senin, 11 Agustus 2025 | 00:24 WIB

 

Film Animasi Merah Putih: One For All.
Film Animasi Merah Putih: One For All.

SOLOBALAPAN.COM - Film animasi berjudul Merah Putih: One For All mendadak viral di media sosial, terutama di platform X.

Namun, bukan karena kualitasnya yang mengagumkan, melainkan karena kritikan tajam dan sindiran dari warganet.

Banyak yang mempertanyakan kualitas visual, naskah, hingga budget produksinya yang disebut mencapai miliaran rupiah.

Film animasi yang akan tayang pada 14 Agustus 2025 ini menjadi sasaran empuk warganet setelah trailernya dirilis.

Kualitas animasi dan CGI-nya dianggap ketinggalan zaman, bahkan disamakan dengan efek visual di sinetron laga era 2000-an.

Tak hanya itu, seorang YouTuber bernama Yono Jambul membocorkan bahwa aset-aset yang digunakan dalam film ini, seperti karakter dan latar belakang, ternyata dibeli dari toko aset digital.

"Mereka ada adegan jalan kan. Nah mereka belinya aset street of Mumbai. Aneh banget kan makanya jalannya," ucapnya dikutip pada Sabtu (9/8).

Penggunaan aset yang tidak orisinal dan tidak memiliki nuansa lokal membuat film ini terasa aneh.

Hal ini semakin diperparah dengan dialog yang dinilai "cringe" dan akting yang kaku, sehingga gagal menyentuh hati penonton.

Salah satu hal yang paling disorot adalah biaya produksi film yang disebut-sebut mencapai Rp 6,7 miliar.

Angka ini dianggap tidak sebanding dengan hasil akhir yang terlihat di trailer.

Sebagai perbandingan, biaya produksi anime populer seperti One Piece atau Demon Slayer per episodenya "hanya" sekitar Rp 1,8 miliar, namun dengan kualitas visual yang jauh lebih baik.

Film ini disutradarai dan ditulis oleh Endiarto dan Bintang, sementara produsernya adalah Toto Soegriwo.

Lewat laman instagram-nya, @totosoegriwo, dibocorkan film ini menghabiskan biaya produksi mencapai Rp 6,7 miliar. Proses pengerjaannya makan waktu kurang dari satu bulan saja.

Produser Toto Soegriwo menanggapi kritikan tersebut dengan santai, bahkan terkesan "salty".

"Senyumin aja. Komentator lebih pandai dari pemain. Banyak yang mengambil manfaat juga kan? Postingan kalian jadi viral kan?," tulis Toto Soegriwo melalui akun Instagram-nya.

Sementara itu, sutradara M. Ainun Ridho memohon keadilan dari publik dengan alasan studio mereka, JAVAX FIlms, masih tergolong baru.

Akibat banjir kritikan dan kualitas yang mengecewakan, film ini akhirnya mendapatkan julukan sarkastik "Movie of the Year" dari warganet.

Julukan ini menjadi bentuk sindiran tertinggi yang sering muncul di kolom komentar setiap kali ada pembahasan mengenai film tersebut.

Meskipun menuai banyak hujatan, Merah Putih: One For All tetap berambisi menjadi film animasi bertema kebangsaan pertama yang hadir di bioskop. Film ini mengisahkan sekelompok anak yang tergabung dalam "Tim Merah Putih" untuk menyelamatkan bendera pusaka yang hilang menjelang 17 Agustus. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#viral #film animasi #Merah Putih One for All