SOLOBALAPAN.COM – Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan tren visual absurd yang disebut sebagai anomali AI.
Istilah ini merujuk pada konten aneh hasil campuran karakter manusia, hewan, dan benda mati yang dihasilkan teknologi kecerdasan buatan.
Meski terlihat acak dan tidak masuk akal, tren ini bukan sekadar hiburan kosong. Ia merupakan bagian dari fenomena global bernama Italian Brainrot, yang tengah viral di berbagai platform seperti TikTok dan Instagram.
Apa Itu Anomali AI?
Konten bertema anomali AI menampilkan visual absurd seperti monyet bersedih di dalam pisang, gajah bertubuh kaktus memakai sandal, atau sapi dengan tubuh planet Saturnus yang menari di festival.
Narasi yang digunakan pun tak kalah unik, yakni suara AI berbahasa Italia atau kombinasi bahasa aneh yang terdengar nyeleneh tapi justru menghibur.
Di Indonesia, istilah anomali muncul karena konten-konten ini dianggap janggal dan tidak sesuai logika umum. Namun sesungguhnya, mereka semua berakar dari tren Italian Brainrot.
Asal-Usul: Fenomena Italian Brainrot
Melansir detik.com, Italian Brainrot pertama kali muncul pada Januari 2025 lewat unggahan TikTok oleh akun @eZburger401.
Ia memperkenalkan karakter Tralalero Tralala, seekor hiu yang memakai sepatu Nike, disertai lagu absurd berbahasa Italia yang dinyanyikan dengan suara AI.
Meskipun akun tersebut akhirnya diblokir, karakter dan kontennya tetap menyebar.
Akun TikTok lain, seperti @elchino1246, mulai mengunggah ulang video tersebut dengan suara AI asli, dan sejak saat itu tren ini berkembang pesat.
Beragam karakter absurd bermunculan, seperti Bombardiro Crocodilo (buaya berbentuk pesawat pengebom) hingga Lirilì Larilà (gajah bertubuh kaktus).
Semua berperan dalam mewarnai linimasa media sosial dengan kreativitas yang nyeleneh.
Anomali Tung Tung Tung Sahur di Indonesia
Di Tanah Air, tren ini memunculkan varian lokal bernama anomali Tung Tung Tung Sahur.
Viral setelah tersebarnya video suara kentongan sahur yang terdengar di waktu tak wajar—tengah malam atau dini hari—tanpa ada sosok yang terlihat membunyikannya.
Dikutip dari The Economic Times (21/4/2025), meme ini berkembang menjadi animasi silinder kayu menyerupai mugdar, memegang tongkat bisbol, dan diiringi lagu "Tung Tung Tung Sahur".
Nilai Budaya dan Kreativitas Generasi Muda
Bunyi "Tung Tung Tung Sahur" sangat familiar di telinga masyarakat Indonesia saat Ramadan.
Tak heran jika meme ini cepat viral dan dijadikan objek remix, editan absurd, bahkan filter AI oleh pengguna TikTok, YouTube Shorts, hingga Instagram Reels.
Namun di balik keseruan tersebut, muncul kekhawatiran soal dampaknya terhadap anak-anak dan remaja.
Pemerintah Mulai Turun Tangan
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kemkomdigi, Alexander Sabar, mengungkapkan bahwa konten seperti Tung Tung Tung Sahur kini diawasi secara aktif oleh pemerintah.
“Di peraturan perlindungan anak itu ada mengatur terkait produk, fitur, dan layanan, termasuk konten,” ujarnya.
Pemerintah tengah menyusun regulasi khusus dalam bentuk Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dan Perlindungan Anak.
Tujuannya agar platform digital lebih bertanggung jawab dan memberikan perlindungan kepada pengguna muda.
Pentingnya Etika dan Edukasi dalam Konten
Tren anomali AI memang menyajikan sisi kreatif dunia digital. Namun tanpa edukasi dan batasan yang jelas, konten ini bisa menimbulkan kebingungan atau bahkan ketakutan pada kelompok usia rentan.
Kreator konten diimbau agar lebih bijak, tak hanya mengejar viralitas, tapi juga mempertimbangkan aspek etis dan dampak psikologis kontennya.
Di era banjir informasi seperti saat ini, kolaborasi antara kreator, platform digital, pengguna, dan pemerintah menjadi kunci dalam membangun ekosistem digital yang sehat, aman, dan penuh tanggung jawab. (dam)
Editor : Damianus Bram