Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

7 Pengalaman Masa Kecil yang Membentuk Rasa Tidak Percaya Diri di Masa Dewasa

Damianus Bram • Senin, 9 Juni 2025 | 20:32 WIB
Ilustrasi orang yang tidak percaya diri.
Ilustrasi orang yang tidak percaya diri.

SOLOBALAPAN.COM – Rasa percaya diri bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja saat seseorang tumbuh dewasa. Ia adalah benih yang ditanam, dirawat, dan dibentuk sejak masa kanak-kanak.

Setiap kata yang kita dengar, setiap tatapan yang kita terima, dan perlakuan orang dewasa di sekitar kita akan menjadi fondasi dari cara kita memandang diri sendiri.

Namun, tidak semua orang beruntung tumbuh dalam lingkungan yang mendukung. Banyak dari kita membawa luka-luka kecil yang tak terlihat, seperti bekas kritik yang tajam, harapan yang terlalu tinggi, atau bahkan keheningan yang panjang.

Luka-luka ini sering kali menjelma menjadi keraguan, rasa takut gagal, dan keyakinan bahwa kita tidak cukup baik, meskipun secara logika kita tahu seharusnya tidak demikian.

Dilansir dari Geediting, berikut tujuh pengalaman masa kecil yang sering kali menjadi akar dari rendahnya rasa percaya diri di masa dewasa, berdasarkan pemahaman psikologis dan emosional yang mendalam.

1. Selalu Dikritik dan Jarang Dihargai

Ketika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kritik, dia mulai melihat dunia sebagai tempat yang menilai, bukan menerima.

Kalimat-kalimat seperti “Kamu tidak pernah benar” atau “Kamu selalu membuat kesalahan” bisa terdengar sepele bagi orang dewasa, tetapi bagi anak-anak, itu adalah cermin tentang siapa dirinya.

Kritik yang terus-menerus, apalagi tanpa bimbingan yang membangun, akan membuat anak merasa bahwa apapun yang dia lakukan tidak pernah cukup.

Saat dewasa, perasaan ini berkembang menjadi ketakutan untuk mencoba, takut dihakimi, dan merasa dirinya tidak berharga, meskipun sebenarnya dia punya kemampuan.

2. Selalu Dibandingkan dengan Orang Lain

Menjadi anak yang selalu dibandingkan dengan orang lain adalah beban berat yang jarang terlihat.

Mungkin dibandingkan dengan kakak yang lebih pintar, atau teman sebaya yang lebih berprestasi.

Ucapan seperti “Lihat tuh si A, kenapa kamu nggak bisa kayak dia?” membuat anak belajar bahwa dirinya tidak cukup baik sebagai dirinya sendiri.

Dia mulai percaya bahwa nilainya hanya ada jika bisa menyamai atau melebihi orang lain.

Saat dewasa, orang-orang seperti ini sulit merasa puas, cenderung rendah diri, dan selalu merasa gagal, meskipun sudah berusaha keras.

3. Tidak Pernah Mendapat Pujian yang Tulus

Baca Juga: Pilihan Skintint Terbaik untuk Kulit Kering dan Berminyak, Bikin Wajah Makin On Point, Kulit Glowing Natural

Anak-anak tumbuh dengan dorongan dari pengakuan. Pujian bukan untuk memanjakan, tetapi untuk mengakui usaha dan identitas mereka.

Sayangnya, banyak anak yang tumbuh tanpa pernah mendengar bahwa mereka melakukan hal yang baik atau layak dibanggakan. Mereka hanya menerima instruksi dan koreksi, tetapi tidak pernah validasi.

Akibatnya, saat dewasa, mereka merasa ragu terhadap pencapaiannya sendiri, selalu butuh validasi dari luar, dan bahkan sulit percaya bahwa dirinya pantas berhasil. Bukan karena sombong, tapi karena tidak terbiasa mendengar bahwa dirinya cukup baik.

4. Dipaksa Menjadi Sempurna Sejak Dini

Baca Juga: Viral Video Penyiksaan Anjing Dikuliti Hidup-hidup di Sragen: Polres Sebut Hoaks, Penyebar Sudah Minta Maaf

Harapan tinggi dari orang tua sering muncul karena cinta, namun ketika tidak disampaikan dengan empati, harapan itu berubah menjadi tekanan.

Anak yang harus selalu rangking satu, harus tampil terbaik, dan selalu menurut, akhirnya tumbuh dengan keyakinan bahwa kesalahan adalah aib.

Psikologi menyebut ini sebagai conditional worth, yaitu rasa diri yang hanya terasa berharga jika berhasil memenuhi standar tertentu.

Ketika dewasa, mereka menjadi perfeksionis yang kaku, takut mengambil risiko, dan sangat keras terhadap diri sendiri. Bukan karena ambisi, tetapi karena takut gagal dan tidak dicintai jika tidak sempurna.

5. Pernah Gagal dan Tidak Dibantu Bangkit

Gagal adalah hal yang wajar, tetapi bagaimana orang tua atau lingkungan merespons kegagalan anak sangat menentukan bagaimana ia melihat dirinya.

Anak yang pernah gagal dan kemudian diledek, diabaikan, atau dianggap memalukan, akan merasa bahwa kegagalan adalah identitas, bukan sekadar peristiwa.

Ia tumbuh dengan rasa malu, merasa tidak cukup pintar atau tidak layak mencoba lagi.

Ketika dewasa, rasa takut itu menetap. Dia jadi ragu memulai sesuatu, cenderung menyerah di awal, dan terus dihantui ketakutan akan kegagalan kecil sekalipun.

6. Selalu Takut Melakukan Kesalahan

Lingkungan yang tidak memberi ruang untuk belajar dari kesalahan, tetapi malah mempermalukan atau menghukum secara berlebihan, akan menciptakan anak yang penuh kecemasan.

Ia tumbuh menjadi pribadi yang selalu overthinking, terlalu berhati-hati, bahkan terhadap keputusan-keputusan kecil. Ketika anak tidak diberi kebebasan untuk salah, dia tidak akan berani berkembang.

Saat dewasa, dia merasa bahwa dirinya tidak bisa dipercaya untuk mengambil keputusan sendiri.

Akhirnya, rasa percaya diri itu tidak pernah tumbuh karena setiap langkahnya selalu dibayangi rasa takut berbuat salah.

7. Tidak Punya Sosok Panutan yang Bisa Dijadikan Contoh

Anak-anak belajar tidak hanya dari kata-kata, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Jika mereka tumbuh tanpa panutan, baik itu orang tua, guru, atau figur dewasa lain yang menunjukkan keberanian, empati, atau ketegasan, mereka tidak tahu bagaimana cara mempercayai diri sendiri.

Mereka bingung membentuk identitas, dan tidak adanya figur positif membuat mereka kesulitan membangun keyakinan bahwa mereka bisa bertindak, mengambil keputusan, dan menjadi seseorang yang bermakna.

Saat dewasa, mereka bisa menjadi pribadi yang pasif, mudah goyah, dan selalu merasa butuh diarahkan. (dam)

Editor : Damianus Bram
#pengalaman #luka #tidak percaya diri #psikologi #mental #percaya diri