Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Film Pengepungan di Bukit Duri Tuai Kritik Pedas Usai Tembus 1,8 Juta Penonton, Joko Anwar Justru Beri Jawaban Bijak Ini

Didi Agung Eko Purnomo • Selasa, 13 Mei 2025 | 02:38 WIB
Sinopsis Film Pengepungan di Bukit Duri.
Sinopsis Film Pengepungan di Bukit Duri.

SOLOBALAPAN.COM - Film garapan sutradara Joko Anwar, Pengepungan di Bukit Duri, sukses menarik perhatian publik dengan capaian 1.823.955 penonton sejak rilis perdananya pada 17 April 2025.

Kabar membanggakan ini diumumkan langsung oleh sang sutradara lewat unggahan di akun Instagram pribadinya, @jokoanwar, pada Senin (12/5).

Namun, di balik pencapaian tersebut, film ini justru menjadi bahan perdebatan di media sosial.

Sejumlah warganet, khususnya pengguna platform X, melontarkan kritik tajam terhadap isi dan penyampaian film yang mengangkat tema kekerasan dan konflik sosial-politik.

Salah satu komentar vokal datang dari akun @hafilova.

Ia menilai bahwa film ini menyia-nyiakan potensi besar sebagai thriller survival, karena tema sosial-politik yang diangkat justru hanya “dipajang” tanpa pendalaman.

“Punya potensi jadi thriller survival solid, tapi tema sosial-politiknya cuma jadi pajangan,” tulisnya pada Kamis (8/5).

Nada kekecewaan serupa juga disuarakan oleh @Lexi_neesan, seorang warganet yang mengaku keturunan Tionghoa dan mengalami langsung suasana mencekam tahun 1998.

Ia merasa film ini mengangkat isu sensitif tanpa arah moral yang jelas.

“Berani-beraninya angkat isu kekerasan rasial terhadap etnis Tionghoa TANPA tujuan atau pesan moral,” kritiknya tajam.

Kritik juga datang dari akun @lordkenganx yang mempertanyakan kualitas penulisan naskah dan pengembangan karakter dalam film.

Ia menyebut karakter dalam film tersebut terasa dangkal dan plot-nya tidak terstruktur dengan baik.

“Penulisan karakter males banget... plot twist-nya juga gak jelas,” ungkapnya.

Menanggapi banyaknya kritik, Joko Anwar akhirnya buka suara.

Dalam unggahannya di Instagram pada Sabtu (10/5), ia mengajak masyarakat untuk memahami bahwa tidak semua karya bisa sesuai dengan selera semua orang.

“Kalau nggak cocok lagi, ya nggak apa-apa. Bukan berarti salah. Mungkin sudah beda frekuensi,” ucapnya.

Joko juga menegaskan bahwa kritik—baik berbasis analisis maupun preferensi pribadi—adalah bagian penting dari perjalanan seorang kreator.

Ia menyarankan agar penonton yang tidak cocok dengan karyanya bisa mencari film dari pembuat lain yang lebih sesuai dengan selera masing-masing.

“Jangan paksa ekspektasi sendiri ke semua pembuat karya. Kalau nggak suka, ada banyak pembuat film lain yang bisa kamu eksplor,” tutupnya.

Terlepas dari kontroversi, Pengepungan di Bukit Duri berhasil menghidupkan kembali diskusi penting seputar representasi sejarah dan kekerasan dalam media

. Film ini membuktikan bahwa karya seni tetap menjadi ruang dialektika antara seniman dan masyarakat, bahkan ketika keduanya tidak selalu berada di titik yang sama. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#joko anwar #Film Pengepungan di Bukit Duri