SOLOBALAPAN.COM - Sukses mencuri perhatian lewat film pertamanya, Waktu Maghrib kini kembali dengan sekuel yang lebih kelam dan menegangkan.
Disutradarai oleh Sidharta Tata dan diproduksi oleh Rapi Films, Waktu Maghrib 2 menghadirkan lanjutan kisah horor jin legendaris Ummu Sibyan yang siap meneror generasi baru di pedesaan.
Mengusung genre horor supranatural, film ini dibintangi oleh Omar Daniel, Anantya Kirana, Sulthan Hamonangan, dan Ghazi Alhabsyi, serta sejumlah aktor muda lainnya.
Baca Juga: Sinopsis Film Perang Kota: Cinta, Pengkhianatan, dan Misi Mematikan di Tengah Konflik Jakarta 1946!
Kali ini, teror berpindah dari Jatijajar ke desa Giritirto, namun kengerian yang ditampilkan justru meningkat beberapa level lebih brutal.
Dua dekade setelah kejadian di Jatijajar, Adi (Omar Daniel) masih menyimpan trauma lama.
Namun tanpa disangka, kutukan itu kembali hadir, kali ini menghantui sekelompok anak-anak di desa Giritirto.
Semuanya bermula dari pertandingan sepak bola yang berakhir ricuh antara pemain inti dan cadangan.
Yogo (Sulthan Hamonangan), Dewo (Ghazi Alhabsyi), dan Wulan (Anantya Kirana) yang kalah dalam pertengkaran itu memilih pulang lebih awal tepat di waktu maghrib, momen yang dikenal sebagai waktu rawan dalam tradisi Jawa.
Di tengah kekesalan, mereka menyumpahi tim inti agar tertimpa musibah. Namun, sumpah yang terlontar dari kemarahan ternyata membuka pintu malapetaka.
Tanpa sadar, mereka membangkitkan kembali teror Ummu Sibyan, jin pengisap nyawa anak-anak yang kembali bangkit dari tidur panjangnya.
Kali ini, jin tersebut merasuki salah satu dari mereka, dan memulai teror mengerikan yang lebih gila dari sebelumnya.
Baca Juga: Kapolres Cup 2025 Resmi Dibuka: 36 Tim Voli Berebut Juara dan Tiket Pra Porprov
Di tengah hutan, dinginnya malam, dan suasana penuh kegelapan, satu per satu anak-anak mulai diburu oleh kekuatan tak terlihat hingga batas akal dan iman mereka diuji habis-habisan.
Dengan nuansa desa yang gelap, sinematografi menekan, dan alur cerita penuh ketegangan, Waktu Maghrib 2 bukan hanya sekadar film horor, tetapi refleksi pada kepercayaan lokal yang akrab di kehidupan masyarakat Indonesia.
Editor : Nindia Aprilia