SOLOBALAPAN.COM - Latar waktu pasca-kemerdekaan Indonesia menjadi panggung besar bagi kisah cinta, pengkhianatan, dan perjuangan dalam film terbaru karya Mouly Surya bertajuk Perang Kota.
Film ini merupakan perpaduan genre drama dan perang, berdurasi 118 menit, dan menghadirkan sederet bintang papan atas seperti Chicco Jerikho, Ariel Tatum, Jerome Kurnia, dan Imelda Therinne.
Diproduksi oleh Cinesurya, Starvision, dan Kaninga Pictures, film ini menggali sisi emosional dari sejarah yang jarang tersentuh: konflik batin para pejuang kemerdekaan yang tidak hanya bertempur di medan perang, tetapi juga dalam kehidupan pribadi mereka.
Jakarta, tahun 1946. Ibukota sedang dalam keadaan darurat. Api revolusi belum padam.
Di tengah gejolak fisik dan politik, seorang guru sekaligus veteran perang, Isa (diperankan Chicco Jerikho), hidup dalam tekanan.
Meskipun disebut pahlawan, Isa menyimpan trauma dan mengalami keretakan dalam rumah tangganya dengan sang istri, Fatimah (Ariel Tatum).
Saat pemerintah mempercayakan misi rahasia kepada Isa untuk menghabisi seorang petinggi kolonial Belanda, ia bekerja sama dengan sahabatnya, Hazil (Jerome Kurnia) pemuda tampan, enerjik, dan idealis.
Namun, misi berbahaya itu menjadi semakin rumit karena Hazil diam-diam menaruh hati pada Fatimah, istri Isa sendiri.
Konflik batin pun tak terhindarkan. Di satu sisi, mereka berjuang melawan penjajahan.
Di sisi lain, mereka harus menghadapi pertempuran lebih pribadi tentang kepercayaan, kesetiaan, dan pengkhianatan.
Mouly Surya, yang juga menulis naskah film ini, kembali menunjukkan ketajamannya dalam membingkai cerita sejarah lewat kacamata manusiawi.
Baca Juga: Kapolres Cup 2025 Resmi Dibuka: 36 Tim Voli Berebut Juara dan Tiket Pra Porprov
Ia membawa penonton masuk ke dalam Jakarta yang penuh debu, darah, dan rahasia.
Perang Kota bukan hanya kisah tentang peluru dan perlawanan, tapi juga tentang rasa yang tak pernah selesai disuarakan.
Film ini mengajak penonton melihat bagaimana perang tidak hanya terjadi di jalanan dan markas rahasia, tetapi juga dalam hati para pejuang yang terluka oleh cinta, kehilangan, dan pengorbanan.
Editor : Nindia Aprilia