SOLOBALAPAN.COM - Bagi Dewi Sri Wahyuningsih Purnama (28), Vespa bukan sekadar kendaraan klasik.
Bagi founder sekaligus ketua Motoran Cantik, komunitas motor klasik khusus perempuan di Solo, Vespa adalah saksi perjalanan hidupnya.
Jadi teman setia di masa sulit, bahkan penyelamat di titik terendah hidupnya.
Kecintaannya pada Vespa tumbuh sejak kecil, ketika sering dibonceng ayahnya dengan Vespa Spring abu-abu. Semasa SMP, nostalgia itu tumbuh semakin kuat.
Saat duduk di bangku SMK, ia mulai bergaul dengan komunitas Vespa dan jatuh cinta pada motor klasik tersebut.
"Awalnya naik Vespa ekstrem yang penuh modifikasi, sampai akhirnya aku memilih Vespa standar demi keamanan," ujarnya.
Ibu satu anak ini tak hanya menyukai Vespa namun, ia juga hidup bersamanya. Aktivitas hariannya pun selalu ditemani skuter kesayangannya.
Touring pertama ke Purwodadi saat masih kelas X di tahun 2017 menjadi pengalaman tak terlupakan. Di tengah hutan, ban Vespa-nya meletus.
"Aku sama almarhum temanku cewek, cuma berdua. Enggak ada sinyal, enggak ada rumah warga. Kami cuma duduk di pinggir jalan menunggu pertolongan yang entah kapan datang," kenangnya dengan mata berkaca-kaca.
Dalam situasi putus asa, mereka mencoba mengisi ban dengan daun-daun. "Aku pikir, ya coba aja. Siapa tahu bisa jalan. Dan ternyata bisa! Sampai acara, baru diganti bannya," ujarnya sambil tertawa kecil.
Pengalaman berharga lainnya datang saat touring ke Bogor. Setelah lima hari perjalanan, ongkos habis.
"Aku enggak mungkin minta orang tua, malu. Akhirnya aku kerja cuci piring di warung makan, dibayar seadanya. Uangnya buat makan dan beli bensin," ceritanya.
Bahkan, demi bisa pulang, dia sempat mengamen di jalan. Pada touring lainnya, dia mengalami kecelakaan.
Lengan terselip di antara roda dan bodi motor. Uangnya hanya cukup untuk pulang, sehingga baru bisa berobat setelah tiba di rumah.
"Kalau minta uang pun dikasih, tapi malu. Masak aku seneng-seneng touring malah nyusahin orang tua. Aku enggak cerita. Dari dulu, kalau hal-hal yang bikin orang tua sedih, aku simpan sendiri," imbuhnya.
Ujian hidup semakin berat ketika dia hamil dan ditinggal suami. "Aku merasa hidup ini bajingan banget. Usaha hancur, rumah tangga berantakan. Aku sampai mengurung diri di rumah, padahal dulu aku orangnya ceria," kenangnya.
Namun, komunitas Vespa menariknya kembali ke kehidupan. "Teman-teman Vespa datang, ngajak aku keluar, ke bengkel, ngobrol. Dari situ aku sadar, masih banyak yang peduli. Aku mulai semangat lagi," ungkapnya.
Ia pun mendirikan Motoran Cantik, komunitas motor klasik perempuan di Solo.
"Banyak wanita suka Vespa, suka motor klasik, tapi enggak tahu harus ke mana. Aku ingin mereka punya tempat untuk berkumpul dan saling dukung," katanya.
Bagi Sri, Vespa kini bukan soal maskulin atau feminin. "Vespa itu soal perbedaan, persaudaraan, kebanggaan. Di Vespa ada semangat respek, persatuan, cinta damai," ujarnya mantap.
Ia juga ingin menghapus stigma bahwa perempuan tak bisa merawat motor klasik.
"Aku pengin ngebuktiin kalau perempuan bisa. Aku ganti spare part sendiri, paham servis, dan tahu cara menangani trouble di jalan," tegasnya.
Kini, Sri juga aktif di komunitas nasional Ladiescoot Veronicaa, wadah perempuan pecinta Vespa se-Indonesia yang menjunjung kebersamaan dan solidaritas.
"Kami ingin mengubah mindset bahwa komunitas Vespa perempuan bukan geng ribet, tapi bisa jadi keluarga yang saling mendukung," jelasnya.
Sri tetap menjalani keseharian ditemani Vespa kesayangannya. Ia juga terus menjalankan usahanya di bidang kecantikan.
"Dulu aku merasa hidup ini enggak ada harapan. Tapi Vespa menyelamatkan aku. Ia mempertemukanku dengan orang-orang baik, memberi pelajaran hidup, dan mengajarkanku untuk selalu bersyukur," katanya.
Sri tak kuasa menutupi rasa bangganya pada putra semata wayangnya yang hampir berusia lima tahun.
Sang anak sudah menjadi dalang cilik sejak usia 11 bulan, mewarisi darah seni dari kakek buyutnya.
"Menurutku aku gagal jadi ibu, Mbak. Tapi aku harus berusaha supaya anakku jangan sampai gagal kayak aku. Mana ada sih ibu yang ingin anaknya gagal?" tutupnya lirih. (zia)
Editor : Nindia Aprilia