SOLOBALAPAN.COM - Hari ini, 26 Desember 2024, genap 20 tahun sejak tsunami dahsyat melanda Aceh pada 2004.
Tragedi yang menelan ratusan ribu korban jiwa ini menyisakan banyak kisah penuh haru, termasuk pertemuan antara Delisa, korban selamat tsunami, dengan jurnalis asal Australia, Cindy Workner.
Kisah ini menjadi bukti nyata kebaikan lintas budaya yang menginspirasi hingga hari ini.
Pada tahun 2005, Cindy Workner bersama timnya datang ke Aceh untuk meliput kondisi pasca-tsunami.
Saat itu, Cindy bertemu Delisa, yang baru saja kehilangan sebagian besar keluarganya dan harus belajar berjalan menggunakan tongkat akibat amputasi.
Berdasarkan unggahan terbaru Delisa di akun instagram @delisafitrir_, ada beberapa momen yang sangat membekas bagi Delisa dari pertemuannya dengan Cindy:
1. Membantu Belajar Berjalan
Cindy adalah orang pertama yang membantu Delisa berdiri dan berjalan menggunakan tongkat.
Bagi Delisa, itu adalah pengalaman penuh perjuangan, terutama untuk belajar menjaga keseimbangan hanya dengan satu kaki.
2. Hadiah Sajadah dan Mukena
Ketika tim Cindy selesai meliput dan hendak kembali, mereka meninggalkan sebuah tas bermotif Aceh yang digantung di dinding.
Awalnya, Delisa mengira itu adalah barang pribadi Cindy yang tertinggal. Namun, Cindy menjelaskan, “Itu sajadah dan mukena untuk Delisa sholat.”
3. Kaki Palsu dan Kesempatan Belajar ke Australia
Pada 2007, Cindy berusaha mengusahakan kaki palsu untuk Delisa serta merencanakan agar Delisa belajar di Australia.
Sayangnya, karena berbagai pertimbangan, rencana tersebut tidak terlaksana.
Delisa terakhir bertemu Cindy pada tahun 2014. Setelah itu, keduanya kehilangan kontak.
Namun, pada Juli 2024, berkat bantuan seorang teman bernama Mbak Aji, Delisa berhasil kembali terhubung dengan Cindy.
Momen ini menjadi pengingat akan kebaikan hati Cindy yang telah membantu Delisa di masa-masa sulit.
Di momen peringatan 20 tahun tsunami Aceh, kisah Delisa dan Cindy Workner menjadi salah satu cerita kemanusiaan yang membekas di hati banyak orang.
Cindy tidak hanya memberikan dukungan fisik kepada Delisa, tetapi juga menyemai harapan dan semangat hidup yang terus menyertai Delisa hingga saat ini.
Kisah ini adalah pengingat bahwa di tengah bencana besar, ada kebaikan yang mampu memberikan secercah harapan untuk bangkit. (nda)
Editor : Nindia Aprilia