Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Apa Itu Kulminasi? BMKG Sebut Ini Jadi Penyebab Cuaca Panas di Kota Solo hingga Pemkot Antisipasi Potensi Kebakaran dan Kekeringan!

Silvester Kurniawan • Selasa, 1 Oktober 2024 | 01:13 WIB
Ilustrasi orang kepanasan.
Ilustrasi orang kepanasan.

SOLOBALAPAN.COM – Cuaca panas di Kota Solo belakangan ini terjadi karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya.

Bahkan meskipun sempat hujan beberapa kali, namun kondisi panasnya udara di Kota Bengawan ini tetap sama.

Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG), Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani, Semarang menerbitkan edaran kesiap-siagaan menghadapi fenomena astronomi dan meteorologi di Bulan Oktober 2024 di Provinsi Jawa Tengah, Senin (30/9).

BKMG menjelaskan sejumlah alasan terkait cuaca panas yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Melalui pers rilis yang diedarkan, Kepala Stasiun Meteorolog Kelas II Ahmad Yani, Semarang, Yoga Sambodo menyampaikan sejumlah fenomena yang astronomi dan meteorologi yang berpotensi terjadi sepanjang Oktober ini, serta meminta seluruh elemen masyarakat menyiapkan langkah-langkah penyiagaan yang diperlukan.

Salah satunya adalah fenomena Kulminasi Utama yang jadi faktor utama munculnya panas ekstrem dalam beberapa waktu terakhir.

“Ini posisi dimana matahari berada di posisi paling tinggi di langit dimana deklinasi matahari sama dengan lintang pengamat (bayangan pengamat akan hilang, Red). Kulminasi utama juga dikenal sebagai hari tanpa bayangan, di Jawa Tengah terjadi antara 9-13 Oktober,” terang dia melalui rilis yang diedarkan.  

Fenomena ini menyebabkan suhu udara maksimum. Dalam 30 tahun terakhir BMKG Jawa Tengah mencatat bulan Oktober sebagai bulan suhu rata-rata Maksimum dengan suhu tertinggi hingga 39,5 derajat Celsius pada 2015 dan 38,1 derajat Celsius pada 2023 lalu.

Dengan demikian ada potensi daerah-daerah di Jawa Tengah akan mencapai suhu rata-rata maksimum pada periodesasi bulan Oktober ini.

“Masa Transisi Pancaroba akan terjadi pada awal hingga pertengahan Oktober. Berpotensi terbentuk awan Cumulonimbus yang berpotensi memicu terjadinya cuaca ekstrem (kilat, petir, angin kencang, putting beliung, hujan es, dan sebagainya, Red). Masyarakat diimbau beradaptasi dengan perubahan cuaca yang terjadi, baik dari yang sebelumnya panas menjadi tiba-tiba hujan,” kata Yoga Sambodo.

Di sisi lain, panas ekstrem yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir membuat Pemerintah Kota Surakarta waspada akan potensi kebakaran dan bencana kekeringan yang bisa terjadi sewaktu-waktu di puncak musim kemarau seperti saat ini.

Berbagai stake holder terkait mulai dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta melakukan berbagai upaya antisipasi pada ranahnya masing-masing.

“Patroli rutin kita tingkatkan untuk antisipasi kebakaran di TPA Putri Cempo. Selain itu untuk meminimalkan potensi kebakaran tumpukan sampah di TPA juga rutin disemprot air agar tidak tiba-tiba terbakar,” kata Kepala DLH Kota Surakarta, Kristiana Hariyati.

Kepala Dinas Kebakaran Kota Surakarta, Sutarjo pun mengaku menyiagakan petugas selama 24 jam agar lebih cepat dalam penanganan bencana kebakaran.

Di luar itu, pihaknya juga rutin melakukan pengecekan hidran di sejumlah titik di kota bengawan agar upaya pemadaman lebih efektif saat terjadi kebakaran.

“Damkar selalu standby. Dan kami ingatkan jangan membakar sampah sembarangan, karena temuan kebakaran lahan kosong di kabupaten sebelah itu biasanya karena sisa pembakaran sampah,” hemat dia.

Selain pencagakan kebakaran, Pemerintah Kota Surakarta juga menyiagakan BPBD dan PDAM Kota Surakarta untuk antisipasi potensi bencana kekeringan di musim kemarau.

Hingga saat ini, sejumlah peralatan bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) seperti tendon air portabel masih disiagakan, sekaligus koordinasi dengan stake holder lain.

“Siaga Bencana Kekeringan masih aktif sampai saat ini. Alhamdulillah belum ada temuan, tapi tim tetap disiagakan khususnya memantau wilayah rawan kekeringan di Solo,” kata Kepala BPBD Kota Surakarta, Niko Agus Putranto. (ves)

Editor : Nindia Aprilia
#pemkot #kulminasi #penyebab #panas #bmkg #kota solo