Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Warga Kota Solo Mulai Malas Pilah Sampah, Hal-hal Ini Diduga Jadi Penyebabnya

Antonius Christian • Kamis, 18 April 2024 | 22:28 WIB
Ilustrasi pemilahan sampah. (DOK PEMERINTAH KOTA BIMA UPT PUSKESMAS JATIBARU)
Ilustrasi pemilahan sampah. (DOK PEMERINTAH KOTA BIMA UPT PUSKESMAS JATIBARU)

SOLOBALAPAN.COM - Kota Solo selama ini dikenal dengan semboyan 'berseri' atau bersih, sehat, rapi, indah.

Namun, semboyan itu kiranya mulai luntur belakangan ini.

Dilansir dari Radar Solo, tren masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah dari rumah tengah mengalami penurunan alias malas memilah sampah.

Kepala UPT Pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta, Edy Sudarmanto mengatakan untuk program pilah sampah hingga saat ini masih berjalan.

Kemudian mulai ditunjang dengan adanya bank sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R).

Akan tetapi, Edy mengatakan kendala di lapagan adalah perubahan perilaku.

Meski telah ada bank sampah maupun TPS3R, namun perilakunya belum signifikan, sehingga menjadi kendala.

"Selama ini kan kita booming di awal, namun menjaga konsistensi ini yang susah. Akhirnya kemudian kesadarannya ini menurun," tutur dia.

"ini yang terus kita kampanyekan dengan bank sampah. Baik bank sampah induk maupun yang ada dilingkungan masyarakat," terang Edy.

Ada beberapa program seperti kampung iklim, dimana kita menggugah kesadaran pengelolaan sampah dari sumbernya," urainya.

Edy mengatakan karena kegiatan program peningkatan kesadaran, sehingga tidak ada sanksi yang mengikat bagi masyarkat yang tidak menjalankan.

"Kalau menjalankan kita dukung, tapi kalau tidak menjalankan ya kita hanya bisa sebatas melakukan edukasi," jelas Edy.

Ditambahkan Edy, selain kesadaran masyarakat, Kendala berikutnya adalah membutuhkan sarana dan prasarana yang besar.

"Ketika sampah sudah dipilah, maka kita butuh space untuk sampah yang dipilah tadi," lanjutnya.

"Termasuk dengan armada yang menggangkut. Percuma saja kalau sampahnya sudah dipilah, tapi diangkuatnya masih jadi satu, buat apa."

"Terkecuali setiap kelurahan sudah punya bank sampah, akan lebih mudah terwujud."

"Memang untuk bank sampah gerakannya sudah banyak. Tapi belum merata di seluruh kelurahan."

"Karena garakan ini masih gerakan mandiri, bukan terkoordinir oleh dinas. Kita hanya memberikan pelatihan atau faslitas," imbuh Edy

Sebenarnya, lanjut Edy, program ini dibuat untuk memperbaiki pengolaan sampah di Kota Solo.

Sebab, bila sampah telah dipilah dari rumah, akan lebih mudah untuk dikelola.

Bahkan bila memiliki nilai ekonomi bisa bekerjasama dengan bank sampah menjadi penghasilan bagi masyarkat.

"Untuk sampah organik, ada bank sampah yang mengolah untuk pakan magot, menjadi pupuk, punya nilai ekonomis juga," sambungnya.

"Sehingga sampah yang masuk ke TPA menurun, di sisi lain masyarakat bisa mendapat pendapatan juga dari sampah ini."

"Kemudian apabila sampah telah terpilah, pengelolaan sampah di TPA lebih mudah," papar Edy.

Dijelaskan Edy, awalnya program ini hanya merupakan program yang dijalankan Kecamatan Banjarsari.

Namun berjalannya waktu program ini mulai digalakkan di beberapa kelurahan di Solo.

"Kelurahan ini yang jadi ujung tombak untuk penerapan kebijakan diwilayah," tutur Edy. (atn/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#Pemilahan #sampah #penyebab #solo