Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Di Area Solo Raya, Ada Perajin yang Mampu Sulap Kayu Bekas Jadi Alat Musik Tradisional yang Indah

Reinaldo Suryo Negoro • Senin, 4 Maret 2024 | 03:44 WIB
Suyanto saat beraksi mengubah kayu bekas menjadi alat musik siter (DOK. PRIBADI/VIA NUR SAFITRI)
Suyanto saat beraksi mengubah kayu bekas menjadi alat musik siter (DOK. PRIBADI/VIA NUR SAFITRI)

SOLOBALAPAN.COM - Kebanyakan orang Solo Raya mungkin tidak akan mempedulikan kayu bekas, bahkan cenderung membuangnya.

Tapi tidak dalam pandangan dan genggaman Suyanto, warga Dukuh Kauman, Desa Mancasan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Di tangannya, kayu bekas yang dibuang oleh kebanyakan orang bisa disulap menjadi sebuah siter.

Siter adalah salah satu instrumen gamelan yang dimainkan dengan cara dipetik seperti alat musik guzheng asal Cina atau siter asal India.

Kepada Solobalapan.com, Suyanto menjelaskan mengenai usahanya membuat kayu bekas menjadi alat tradisional tersebut.

“Saya mulai merintis usaha ini tahun 1998 dari harga Rp45.000 hingga sekarang mencapai ratusan ribu paling tinggi harganya Rp750.000," ujar Suyanto.

"Usaha ini bukan usaha turun temurun, awalnya saya coba-coba, saya belajar secara otodidak,” terangnya.

Meski terbuat dari kayu bekas, Suyanto bisa menjamin kualitas alat musik siter bikinannya.

“Bahannyanya dari kayu bekas seperti bekas lemari, dipan, meja dll," lanjut Suyanto.

"Ngambilnya di Semanggi (belinya disana) tempat loakan barang bekas, karena kayu bekas lebih bagus dari pada kayu baru."

"Kayu bekas tidak mungkin kayunya kerut, tapi jika kayu baru harus di jemur dulu, jadi setelah susut dia pasti kerut."

"Kayu bekas dari puluhan tahun lebih bagus untuk dijadikan bahan alat musik siter,” jelasnya.

Harga jualnya sendiri beragam tergantung permintaan barangnya dan bahan yang dipakai.

“Saya biasanya menerima pesenan, jadi kalo untuk proyek harganya Rp 225.000 itu kayu biasa," sambung Suyanto.

"Jika menggunakan kayu jati itu harganya beda lagi, tergantung pemesanan yang dibutuhkannya."

"Alhamdulilah bulan ini saya menerima pesenan 50 siter untuk di kirim ke sekolah-sekolah," ujarnya.

Selama ini, Suyanto lebih banyak menerima pesanan secara langsung.

“Yang beli ini biasanya pelanggan-pelanggan lama dari toko-toko. Seperti dari Jogja, Klaten dan alun alun utara," tambahnya.

Dalam kaitannya dengan penjualan, Suyanto berkata bahwa omzetnya tidak menentu. 

“Untuk omzet perbulannya tidak menentu tergantung dari pemesanan," jelas Suyanto.

"Terkadang yang memesan sedikit, banyak, terkadang lebih. Paling sedikit dalam 8 hari bisa kirim 10 siter," terangnya.

Suyanto juga menerangkan terkait proses lama waktu pembuatan siter tersebut.

“Pembuatan siter ini membutuhkan waktu yang cukup lama," lanjutnya.

"Jika yang pesan mau dikasih ukiran untuk bagian samping itu membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. Belum lagi yang ngerjain hanya saya dan istri,” tutur Suyanto.

Sebelum adanya pandemi Covid-19, Suyanto memproduksi beberapa alat musik seperti kendang, kecapi dan siter.

Tetapi, karena pandemi Covid-19, penjualan turun yang menyebabkan pemberhentian para pekerja lainnya untuk memangkas kerugian.

“Kemaren pas Covid kami mengalami penurunan penjualan yang mengakibatkan pengurangan pegawai," terang Suyanto.

"Yang awalnya saya mempunyai 5 pegawai sekarang hanya saya dan istri yang menekuni usaha ini."

"Dulunya saya menjual kendang dan kecapi juga tapi berhubung pas covid kami mengalami kerugian yang tidak sedikit jadinya sekarang ini saya hanya membuat siter," paparnya. (mg7/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#alat musik #pengrajin #siter #Kayu Bekas #solo