SOLOBALAPAN.COM - Di tengah kesibukannya sebagai guru PNS di SMP Negeri 4 Karanganyar, Adityo Eko Kuncoro tak henti-hentinya berinovasi dan berkarya.
Pria yang akrab disapa Pak Eko ini tak hanya piawai menjadi Guru Pendidikan Agama Islam, tapi juga memiliki jiwa wirausaha yang patut diacungi jempol.
Pak Eko memanfaatkan waktu senggangnya untuk mentransformasi sampah konveksi menjadi produk kerajinan tangan yang bernilai ekonomis.
Ya, tangan kreatifnya mampu menyulap potongan kain perca menjadi keset dan cempol tatakan panas.
Kedua benda yang dihasilkan oleh Pak Eko ini memiliki tampilan yang cantik dan memiliki nilai fungsional.
Berawal dari Hobi
Kecintaan Pak Eko terhadap dunia wirausaha sudah muncul sejak ia masih duduk di bangku perkuliahan di IAIN Surakarta (sekarang UIN Raden Mas Said).
Pada tahun 2012, ia memulai usaha pembuatan keset sebagai upaya menambah penghasilan.
Bermodalkan alat anyam sederhana dan ketekunan, Pak Eko mulai memproduksi keset dari kain perca yang diperolehnya dari konveksi.
Seiring berjalannya waktu, usahanya mulai berkembang dan semakin dikenal banyak orang.
Omzet Jutaan Rupiah
Kesuksesan Pak Eko tak lepas dari kegigihannya dalam memasarkan produknya. Ia memanfaatkan media sosial seperti Facebook untuk mempromosikan keset buatannya.
Tak hanya itu, ia juga aktif mengikuti berbagai pameran dan expo untuk memperluas jangkauan pasarnya.
Berkat kerja kerasnya, Pak Eko mampu meraup omzet hingga jutaan rupiah dari usaha pembuatan kesetnya.
Pada saat awal pandemi Covid-19, permintaan keset buatannya meningkat drastis. Ia bahkan mampu mendapatkan omzet kotor hingga Rp 12 juta per bulan.
Mengajarkan Siswa Berwirausaha
Tak hanya fokus pada usahanya, Pak Eko juga memiliki kepedulian untuk menumbuhkan jiwa wirausaha pada para siswanya.
Ia mengintegrasikan pembelajaran kewirausahaan (P5) dengan produksi keset di sekolah.
Para siswa diajarkan cara membuat keset dan memasarkannya. Hasil karya mereka kemudian dijual di expo yang diadakan di CFD Alun-alun Karanganyar dan saat penerimaan rapor.
Proses Produksi dan Distribusi
Baca Juga: Tinggal di Solo dan Gak Punya Lahan Luas, Yuk Coba Terapkan Tabulampot Agar Lahanmu Makin Bermanfaat
Proses produksi keset Pak Eko dimulai dengan pengambilan bahan baku dari konveksi.
Kemudian, bahan baku tersebut dibagikan kepada karyawan di rumah-rumah untuk dianyam menjadi keset.
Setelah jadi, keset tersebut disetorkan kembali kepada Pak Eko untuk dipasarkan kepada pelanggan.
Saat ini, Pak Eko dibantu oleh beberapa karyawan untuk mengelola usahanya, karena ia juga harus fokus pada pekerjaannya sebagai guru dan menempuh pendidikan PPG.
Harga dan Varian Produk
Keset buatan Pak Eko tersedia dalam berbagai varian dan harga. Harganya berkisar antara Rp 2.500 hingga Rp 5.000 untuk satu buah keset.
Selain keset, Pak Eko juga mulai memproduksi cempol tatakan panas sejak bulan Februari 2024.
Harga sepasang cempol dibanderol dengan harga Rp 4.000. Para siswa yang terlibat dalam pembuatan keset dan cempol mendapatkan keuntungan sebesar Rp 500 untuk pembuatan sepasang cempol dan Rp 1.000 untuk pembuatan satu buah keset.
Tantangan dan Harapan
Baca Juga: Dikenal Sebagai Burung Kematian, Ternyata Ini Beberapa Mitos Burung Gagak yang Berkembang di Solo
Meskipun usahanya terbilang sukses, Pak Eko tetap menghadapi beberapa tantangan, seperti fluktuasi permintaan pasar dan cuaca.
Saat cuaca panas, biasanya penjualan keset menurun, sedangkan saat musim hujan permintaan meningkat.
Namun, Pak Eko tak patah semangat. Ia terus berinovasi dan mengembangkan produknya agar dapat diterima oleh masyarakat.
Ke depannya, ia berharap usahanya dapat terus berkembang dan mampu membantu lebih banyak orang.
Kisah Pak Eko merupakan contoh inspiratif bagi para guru dan masyarakat luas.
Di tengah kesibukannya sebagai guru, ia tak henti-hentinya berkarya dan berinovasi untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. (Mg 2/nda)
Editor : Nindia Aprilia